Rabu, 11 Maret 2015

Yesus dan Yahwe






A.   Yesus dan Yahwe
Yesus tidak pernah menyatakan diriNya adalah Yahwe?
Unitarian:
Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diriNya Yahwe.
Jawab
A.    Butuh Pengakuan Verbal: “Aku adalah Allah”?
Kami beri ilustrasi: “Selama lawatannya ke luar negeri, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dan bahkan semua orang yang pernah menjabat sebagai presiden, di bumi ini, tidak pernah berpidato, atau memberi pernyataan tentang dirinya: “Aku Barack Obama, Presiden Amerika Serikat adalah Manusia”. Kalau Barack Obama tidak pernah memberitahukan bahwa dirinya adalah manusia, hal itu tidak dapat disimpulkan bahwa Barack Obama pasti bukan manusia.  Jadi, sesuatu yang tidak dikatakan secara verbal bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak ada. Kalau benar bahwa Yesus tidak pernah menyatakan “Aku adalah Allah” tidak berarti bahwa Dia bukan Allah. Kecuali kalau Yesus benar-benar pernah menyatakan: Aku bukan Allah. Berita menyedihkan bagi kaum Unitarian bahwa Yesus tidak pernah menyangkal bahwa DiriNya adalah Allah. Sebaliknya, Yesus dengan pelbagai cara menyatakan bahwa Dia adalah Allah/Yahwe yang menjadi manusia.
B.     Yesus menyatakan diriNya sebagai Putera Allah:
Dalam Perjanjian Baru dikatakan: “Kata mereka semua: "Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?" Jawab Yesus: "Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Anak Allah[1]." Masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?[2]
Dalam kitab Wahyu tertulis:
"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga[3]
Pesan yang mau disampaikan oleh sebutan “Anak Allah” adalah Yesus sehakikat dengan Bapa. Yesus adalah Allah yang tampak dalam sejarah, di hadapan seluruh indera manusia. Anda tidak lagi beriman layaknya, seorang yang membeli kucing dalam karung. Anda mengimani Allah yang pernah hadir dalam sejarah manusiawi Anda. Seberapa pun hebatnya seseorang mendeskripsikan seekor kucing yang hendak dijualnya, bahwa si penjual benar-benar menjual seekor kucing, hal semacam itu tinggal tetap pada sebuah deskripsi, yang harus dibuktikan secara empirik. Allahnya orang Kristen bukanlah Allah angan-angan, atau Allah yang dipropagandakan oleh orang lain, atau Allah yang dideskripsikan Akbar oleh seorang manusia. Allahnya orang Kristen adalah Allah yang menyatakan DiriNya di hadapan ribuan saksi mata dalam wujud rupa manusia. Allah yang menyejarah[4].
C.     Yesus menyatakan diriNya sebagai Yahwe [Matius 4:1-11]
Yesus dicobai Iblis.
Menurut pengarang Matius, setelah berpuasa empat puluh hari empat puluh malam,  Yesus dicobai oleh Iblis,[5] atau Iblis mencobai Yesus. Penegasan ini penting agar kita dapat memahami sejumlah pernyataan Yesus pada ayat-ayat selanjutnya.

Cobaan pertama:

 "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."  Jawaban Yesus: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."[6].

Menarik bahwa pernyataan “Anak Allah yang ke luar dari mulut Iblis, dijawab oleh Yesus: “Manusia hidup….”. Jadi, Anak Allah itu adalah MANUSIA. Perintah Iblis supaya Anak Allah makan roti tentu tidak masuk akal sebab pernyataan Anak Allah mau menegaskan bahwa Yesus adalah Allah. Allah yang adalah Roh tidak mungkin makan roti. Siapakah yang bisa makan roti? Hanya manusia. Sekalipun Yesus adalah manusia, Ia tidak melulu hidup dari roti, tetapi setiap firman yang ke luar dari mulut Allah. Siapakah Allah yang dimaksud oleh Yesus: DiriNya atau Yahwe?. Kalaulah “firman yang ke luar dari mulut Allah” HANYA MELULU ditujukan kepada YAHWE, maka berita dalam Perjanjian Baru, tepatnya keempat Injil tidak tepat sebab keempat Injil nyaris seratus persen memuat pengajaran yang ke luar dari mulut Yesus. Sementara orang-orang Kristen zaman ini justeru mengikuti setiap firman yang keluar dari mulut Yesus. Bukan karena orang Kristen membangkang terhadap Yesus, tetapi justeru karena Dialah yang memerintahkannya[7] Lagi pula, Bapa sendiri meminta para murid untuk mendengarkan Yesus[8] Jadi, secara sangat halus Yesus menyampaikan bahwa Dia adalah Allah. Orang Kristen mengikuti semua perkataan dari mulut Allah, yang tidak lain adalah perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Renungkanlah itu!

Cobaan kedua:

 "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Jawaban Yesus: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" [9]

Pertanyaan kita: siapakah yang sedang dicobai oleh Iblis, Yahwe atau Yesus? Jawabannya jelas: Yesus[10] yang juga diakui oleh penulis Ibrani[11]
Iblis mencobaik Yesus: “Jika Engkau Anak Allah…” Jawaban Yesus sangat jelas: “Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu”. Siapakah yang sedang dicobai? Bukan Yahwe tetapi Yesus. Jika demikian, maka kesimpulannya Yesus menyatakan DiriNya adalah Allah. Dan karena Allah yang menjadi manusia, maka Ia dicobai Iblis.

Cobaan ketiga:

"Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Jawaban Yesus: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!".[12]

Iblis mencobai Yesus: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."  Ini adalah cobaan yang paling besar dari Iblis karena berkaitan dengan penyembahan yang hanya dikhususkan bagi Allah?Yahwe semata. Di sini pulalah, Yesus menyampaikan pernyataanNya yang paling tegas, jelas dan lengkap tentang siapa DiriNya: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, HANYA kepada DIA SAJA engkau BERBHAKTI. Lihat dan renungkan!!! Hanya kepada Allah (YHWH) saja engkau berbhakti (menyembah), tetapi YHWH  sendiri justeru mengharuskan para malaikat menyembah Yesus[13] Yesus tidak pernah menolak untuk disembah, juga tidak pernah mengutuk orang yang menyembah Dia[14] sebagaimana Dia mengutuk Iblis yang minta disembah.

Yesus menyatakan Diri Allah.

Uraian-uraian di atas lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Yesus menyatakan DiriNya adalah Allah, Allah yang menjadi manusia. Namun, banyak orang menuntut teks yang secara eksplisit menegaskan  bahwa Yesus menyatakan diriNya adalah Allah: “Aku [Yesus] adalah Allah”. Baiklah kita berkhikmat. Kata “Yahwe” adalah sebuah Nama. Benar bahwa nama itu menyatakan jati diri. Tuntutan bahwa Yesus menyatakan diriNya Yahwe, telah dijawab oleh Yesus sendiri justru melebihi tuntutan tersebut.

Kita semua tahu bahwa kata Allah adalah terjemahan Arab kata Ibrani  Elohim. Sedangkan kata TUHAN adalah terjemahan Indonesia (Melayu) kata Ibrani YAHWE. Jika ada orang yang lebih “mengagungkan” kata Allah daripada  kata Tuhan, maka hal itu tidak lebih dari persoalan rasa budaya bahasa suatu bangsa. Alkitab tidak mendeskripsikan bahwa kata Allah lebih tepat untuk Sang Ada daripada kata Tuhan. Apalagi kalau hanya karena analisis etimologis bahwa di balik kata “Tuhan” terselip juga arti “tuan”. Kalau itu masalahnya, maka dibalik kata “Allah” pun bercokol arti “dewa pagan Arab pra Islam”.

Sang Ada, Pencipta Langit dan Bumi tidak pernah menyatakan bahwa “NamaKu adalah Allah/Elohim”. Kata “Elohim, atau Allah (Arab)” itu justeru dipakai oleh orang Israel/penulis Alkitab PL untuk YHWH/Sang Ada. Inilah hal yang tidak terbayangkan oleh orang-orang yang mengagungkan dan menggunakan kata “Allah” satu-satunya untuk “Sang Ada”. Sang Ada-nya Israel malah tidak pernah merekomendasikan kata Allah (Arab) itu. Siapakah yang dapat membuktikan bahwa saat kali pertama orang Arab pra-Islam menggunakan kata “Allah” adalah untuk Yahwe TUHAN Israel?!!!

Kepada Musa-lah, Sang Ada itu menyatakan siapakah Dia. Dia adalah “AKU ADALAH AKU; AKULAH AKU, sama dengan AKU ADA” Makna dari kata itu ialah  AMBIL BAGIAN, IKUT SERTA dan TERLIBAT AKTIF. Nah, DIA yang terlibat aktif itulah yang kemudian disebut YAHWE/TUHAN.[15] Kalaupun kata “YAHWE” itu telah dikenal oleh orang Israel sebelumnya, tetapi sekurang-kurangnya kata itu mendapat penegasan dan restu langsung dari Sang Ada.

Perhatikan teks Yesaya berikut ini: “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku.[16] Sang Ada tidak pernah mengatakan bahwa “Aku adalah “Allah (dalam pengertian Arab pra-Islam)”. Berkaitan erat dengan pernyataan dalam teks Yesaya itu, maka Yesus dengan tegas menyatakan: “Aku yang adalah TUHAN dan GURUMU[17]

Pertanyaan kita bukan hanya apakah Yesus pernah menyatakan diriNya, Allah/Elohim, atau Yahwe  TETAPI apakah Yesus pernah menyatakan diriNya AKU ADALAH AKU, AKULAH AKU, AKU ADA; kata-kata yang dikemukakan oleh Sang Ada Sendiri?  Ya.!!! Yesus tidak pernah ragu menyatakan dirinya: AKU ADALAH AKU, AKULAH AKU, AKU ADA[18]” 

Perhatikan antara lain, teks-teks berikut ini:
Kitab Pertama Tawarik:

“Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya." [19]

Injil Lukas
Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel[20]

Injil Yohanes

Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini[21]."

Bagaimana ketiga teks tersebut justru menunjuk kepada ke-Allah-an Yesus?

Dengan membaca teks Tawarik, kita menyimpulkan bahwa Allah memiliki kerajaan, kerajaan-Ku sama dengan Kerajaan Allah.

Dengan membaca teks Lukas, kita mendapat kesan bahwa Bapalah yang menentukan hak kerajaan bagi Yesus. Kesan seperti itu dapat dimengerti. Yang perlu diperhatikan adalah nama gelar kerajaan itu menyatakan nama, gelar pemiliknya. “Sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku”Artinya, kerajaan yang ditentukan bagi Yesus itu adalah kerajaan Allah. Pemiliknya adalah Dia yang disebut Allah/Yahwe. Kerajaan Yahwe/Allah itu disebut oleh Yesus sebagai “Kerajaan-Ku”!!! “Kamu makan dan minum semeja dengan Aku di dalam KerajaanKu”.  Nah, “Kerajaan Allah” = Kerajaan-Ku [Yesus]. Jadi, Yesus adalah Allah.

Dalam Injil Matius dikatakan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu[22]. Kata “Kebenaran” mengingatkan kita pada pernyataan Yesus dalam bagian Injil Yohanes: “Akulah jalan kebenaran dan hidup[23]” Jadi, Yesus menegaskan bahwa DiriNya adalah Allah.
Nah, “Kerajaan Allah” adalah KerajaanKu [Yesus], atau KerajaanKu adalah Kerajaan Allah. Jadi, Yesus adalah Allah.

D.    Akulah Dia Yahwe
Jawab Yesus: "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit." [24]
Perkataan Yesus ini, Ia ambil dari Daniel 7:13.  Daniel mengidentifikasi bahwa dia yang datang di tengah awan-awan di langit itu ialah seorang seperti anak manusia. Siapakah namanya? Pertanyaan ini dijawab secara sempurna oleh Pemazmur.

“Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah NamaNya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! NamaNya ialah YAHWE (TUHAN); beria-rialah dihadapanNya[25].”

Menarik bahwa nama dari Dia yang melintasi awan-awan itu bukan Elohim (Allah), tetapi YAHWE, TUHAN. Mengingat semuanya ini, kita dapat mengerti mengapa Yesus tidak pernah secara hurufiah menyatakan diriNya: “Aku adalah Allah”, tetapi “Aku adalah YAHWE, TUHAN”, tepatnya “Aku yang adalah Tuhan”.[26] Yesus tidak mau kita terpeleset dengan kata Elohim, yang kerap dipakai juga untuk allah karikatur[27]

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "AKULAH TERANG dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup[28]."  Perkataan Yesus ini diambil dari kitab Mazmur “YAHWE (TUHAN) ADALAH TERANG.[29]

Jadi, ini menegaskan bahwa pada dasarnya, klaim Yesus merupakan penyataan DiriNya: siapakah Dia? Dia adalah YAHWE (TUHAN).

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; … Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku[30]”.

Perkataan Yesus ini menyingkap keyakinan Yakub[31] dan Daud[32] bahwa TUHAN adalah Gembala. Jika Yesus tahu bahwa YAHWELAH  GEMBALA, tetapi Dia tegas menyatakan bahwa “AKULAH GEMBALA”, bahkan GEMBALA YANG BAIK”, hal itu mengandaikan bahwa DIA adalah TUHAN yang sama dengan YAHWE.

 “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan…bahwa Akulah Dia[33]”. 

Marilah kita berhikmat, sebab

“haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, ALLAHMU, MENGAJARI engkau seperti seseorang mengajari anaknya.[34]

Yesus secara gamblang menyetujui sebutan para murid atas diriNya: Guru dan Tuhan. Jika Yesus bukan YAHWE, tentulah Ia menghindari sebutan tersebut agar para muridNya tidak mengingkari  fakta bahwa YAHWE tidak lagi memerlukan seorang guru untuk mengajar[35] Oleh karena Yesus menyetujui gelar (Guru) yang diberikan para muridNya, maka itu berarti Ia mengakui DiriNya sebagai YAHWE, sebab hanya Yahwe yang mengajar dan tidak memelurkan guru yang lainnya.

Selanjutnya,
 “Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.[36]” 

Pernyataan Yesus ini itu mengesankan. Bandingkan pernyataan Yahwe dalam kitab Yeremia berikut ini:

 “Aku, TUHAN yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah dan langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya[37]”.

Pernyataan ini tidak cukup dimengerti hanya karena Yesus telah diberi kuasa oleh BapaNya[38] sebab Bapa tetap berkuasa sampai sekarang. Hal itu hanya mungkin dipahami bahwa terdapat kesetaraan antara Bapa dan Yesus.[39] Masih begitu banyak teks lain yang membuktikan bahwa Yesus menyatakan diriNya YAHWE TUHAN.


E.     Lagi-lagi Yesus menyatakan DiriNya adalah YAHWE
Injil Yohanes mencatat perkataan Yesus “Aku dan Bapa adalah satu."[40]  Banyak diskusi atau debat, persisnya penyangkalan dari kelompok anti ke-Allah-an Yesus. Menurut kaum Unitarian:
“Aku dan Bapa adalah satu” artinya Yesus bersatu dengan Bapa dan bukan sama dengan Bapa. “Ber-satu”, satu pekerjaan[41] satu visi, satu spirit, satu hati satu pikir bukan satu hakikat! Bersatu dengan Yesus bukan menjadi Yesus, bersatu dengan Allah, bukan menjadi Allah sejati”!
Jawab
Reaksi orang-orang zaman ini memang lain. Pertama-tama mereka menolak ke-Allah-an Yesus karena isi keyakinan mereka adalah Yesus tidak pernah mengakui DiriNya sebagai Allah. Sebaliknya, orang-orang Yahudi menolak ke-Allah-an Yesus karena Yesus mengaku DiriNya adalah Allah. Sama-sama menolak ke-Allah-an Yesus, tetapi alasannya saja yang berbeda. Renungkan dan perhatikan reaksi orang-orang Yahudi terhadap pernyataan Yesus:  
"Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah[42]"
Orang-orang Yahudi paham dan sangat mengerti bahwa Yesus sedang mengakui DiriNya adalah Allah. Jika tidak demikian, mustahil mereka mau melempari Yesus dengan batu. Ketika jiwa sedang diancam secara demikian,  padahal Yesus tidak bermaksud mengakui DiriNya sebagai Allah, maka sangat masuk akal kalau Yesus meluruskan pernyataanNya. Nyatanya, hal itu tidak Yesus lakukan. Tidak ada satu pun ayat dimana Yesus memperbaiki pernyataanNya. Yesus juga TIDAK PERNAH menyatakan “AKU BUKAN ALLAH” hanya orang yang anti Yesus saja yang pernah menyatakannya. Kesimpulannya: Yesus benar-benar bermaksud menyamakan DiriNya dengan Allah. 
 “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."  Perkataan “Aku telah Ada”, itu sama artinya: “AKU ADALAH AKU ADA (=YHWH)[43]
Perkataan Yesus ini membuat orang Yahudi geram. Perhatikan laporan Alkitab mengenai rekasi orang Yahudi:
 “Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah[44].”
Mengapa orang Yahudi sedemikian nekat? Bagi mereka, perkataan Yesus itu berarti menghujat Allah. Siapa saja yang menghujat Allah, maka hukumannya tidak tanggung-tanggung: dirajam sampai mati. Pengakuan para musuh Yesus ini menambah bobot kebenaran perkara ini. Artinya Yesus benar-benar menyatakan DiriNya sebagaimana dipahami oleh orang Yahudi: Yesus menyamakan diriNya dengan Yahwe. Sayangnya orang Yahudi tidak dapat menerima dan percaya atas perkataan Yesus itu, sama seperti sebahagiaan dari orang-orang zaman sekarang.
F.      Lihat juga Teks-teks Berikut ini:
Dalam kitab Wahyu, malaikat menginstruksikan Rasul Yohanes untuk hanya menyembah kepada Allah[45] Tetapi beberapa kali dalam Alkitab Yesus menerima penyembahan[46] Dia tidak pernah menegur orang-orang yang menyembah Dia. Kalau Yesus bukan Allah, Dia pasti melarang orang-orang menyembahNya, sama seperti  malaikat dilarang disembah oleh Yohanes[47] Yesus juga pasti tahu betul larangan menyembah selain Allah dalam Keluaran 20:4-5 dan Ulangan 5:7-9
Di satu pihak,  semua manusia di bumi rusak, pembohong, berdosa[48] Di pihak lain, hanya Allah yang dapat mengampuni dosa[49] Sementara, orang berdosa tidak dapat melihat Allah kecuali mereka yang suci hatinya.[50] Jadi, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Kita sadar bahwa hanya Allah saja yang memungkinkan kita dapat menghampiri tahtaNya. Oleh kehendak dan cintaNya kepada kita, maka Dia datang ke dunia.  Sesuatu yang tidak masuk di akal pikiran manusia daging. Dia yang Mahabijaksana datang dan mengambil rupa manusia, bahkan rupa hamba. Sebab kita ini adalah manusia dan hamba. Dengannya kita mengerti, Dia yang tak terjangkau, Dia yang ajaib, Dia yang mahadasyat kini hadir menyertai kita dan sedang mengantar kita menuju rumahNya. Karena kini Dia telah menjadi manusia, maka untuk menebus dosa kita, Ia memakai cara-cara manusiawi kita. Sekali lagi, maksudnya ialah supaya kita mengerti, supaya kita tahu, supaya kita merasakan dan supaya kita mengalami Allah yang kita imani. Kita dapat mengalamiNya dengan seluruh kemanusiaan kita. Kalaulah dia yang menebus dosa kita hanyalah manusia seperti kita, maka hal itu tidak mungkin sebab manusia pada dasarnya kita manusia tidak dapat menolong dan menebus dosanya sendiri.[51] Hanya Allah yang sanggup menanggung dosa seisi dunia ini.[52] Karena dosa yang begitu besar dan berat, Allah yang menjadi manusia itu mati untuk dosa kita.[53] Perhatikan perkataan dalam Ibrani berikut ini:
 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut[54]
Pernyataan ini menegaskan sesuatu hal yang berbeda bahwa Yesus tidak sama dengan manusia. Karena tidak sama dengan manusia, maka Ia (Yesus) MENJADI (pergerakan/perubahan ke bentuk yang lain) sama dengan manusia (darah dan daging). Perubahan dari tidak sama menjadi sama, paling sedikit mengambil bagian dalam kemanusiaan kita.
 “Dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut[55].”.
Apakah untuk menyelamatkan manusia, Allah harus menjadi manusia terlebih dahulu? Jawabannya: YA. Itu cara yang paling baik. Itu adalah rancangan Allah dan bukan rancangan manusia.
 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,…Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu…firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya[56].
 Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada kehendak Allah. Renungkanlah ayat berikut ini:
 “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.  Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai[57].” 
Jika ada seorang anak kecil yang tiba-tiba jatuh ke dalam sumur berlumpur yang dalam, maka anak kecil itu pasti tidk mampu menolongnya. Kata-kata anda pun tidak lagi bermanfaat baginya.  Cara satu-satunya yang paling efektif ialah diri anda sendiri. Anda harus menceburkan diri ke dalam sumur itu  sebab dia tidak dapat memegang kata-kata anda, tetapi dia butuh tangan anda. Bahkan manakala anak itu tidak lagi dapat memegang apa pun, maka anda yang harus memegang tangannya dan menarik dia dari sana. Anda harus turun ke dalam lumpur itu.  Anda dapat mengangkat dan menggendongnya serta membawanya ke tempat yang aman. Kita ini lebih kecil dari seorang anak kecil, sering jatuh dan jatuh lagi ke dalam lumpur yang kotor, kerapuhan karena dosa. Tuhan tahu bagaimana caranya menyelamatkan kita. Dia tidak mau menggunakan cara kunfayakun, bimsalabim, (seperti kebiasaan tukang sulap), atau apa pun namanya. Bahkan Dia tidak mempercayakan firmanNya kepada apa yang tidak kekal. Dia menyampaikan firmanNya kepada kita dengan menjadi sama dengan kita. Dan itu adalah cara yang paling tepat sesuai dengan kemanusiaan kita.  “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.[58] Tetapi Firman yang tetap teguh di sorga itu “telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.[59]  
Jadi, seluruh uraian di atas memastikan bahwa Yesus menyatakan diriNya adalah Allah (yang menjadi manusia) dan karena Dia, anda dan saya memiliki pengharapan akan keselamatan dan hidup yang kekal.
G.    Yesus adalah Allah buatan Konsili Gereja Katolik
Orang-orang modern kerap juga beranggapan bahwa Ke-Allah-an Yesus adalah buatan Konsili Nicea tahun325 atas perintah Kaisar Konstantin.
Jawab
Anggapan itu tidak dapat dibenarkan karena fakta sejarah menyangkalnya, antara lain:
1)       Ini mustahil. Manusia tidak mungkin bisa mengubah manusia menjadi Tuhan/Allah
2)       Tuhan bisa membuat diriNya menjadi manusia sebab Tuhan Mahakuasa
3)       Ajaran dan iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal yang berpusat pada Kristus bukan pada konsili Nicea dan perintah kaisar Konstantine
4)       Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Peristiwa itu disebut inkarnasi.
5)       Inkarnasi adalah tindakan ajaib Tuhan dan teragung dan terbesar karena didorong oleh cintaNya yang luar biasa kepada manusia.
6)       Inkarnasi adalah bukti kuat bahwa Allah Mahakuasa dan mahasempurna dalam tindakanNya. Jika kita percaya bahwa Allah mahakuasa dan mahasempurna, maka Dia mahakuasa MAMPU menjadi manusia.
7)       Inkarnasi adalah peristiwa Allah memasuki sejarah umat manusia. Kenyataan ini tidak ditemukan dalam ajaran agama non Alkitab.
8)       Ketetapan konsili Nicea bukanlah upaya mengangkat atau membuat Yesus menjadi Tuhan dan Allah, tetapi menegaskan kembali apa yang telah ditulis dalam Alkitab. Dengan itu Gereja mendefinisikan dirinya berbeda dari agama lainnya.
Jadi, Ke-Allah-an Yesus adalah Allah yang menjadi manusia [inkarnasi]
H.    Bapa-bapa Gereja sebelum konsili Nicea tahun 325 itu telah mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. 
1)      St. Ignatius dari Anthiokia (110 AD). 
“…. ditakdirkan dari sepanjang abad untuk sebuah kemuliaan yang tidak berkesudahan dan tak berubah, disatukan dan dipilih melalui penderitaan yang nyata oleh kehendak Bapa di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita[60]  “Karena Tuhan kita, Yesus Kristus, dikandung oleh Maria, sesuai dengan rencana Tuhan: dari keturunan Daud, memang benar, namun juga dari Roh Kudus.[61] “kepada Gereja yang dikasihi dan diterangi oleh kasih dari Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak-Nya.[62]  “Allah sendiri dimanifestasikan dalam bentuk manusia[63]
2)      St. Irenaeus (140 AD).
“….dan kebangkitan kembali semua badan dari seluruh umat manusia, sehingga kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Allah dan Penyelamat dan Raja…[64]  Engkau akan mengikuti satu-satunya guru yang benar dan dapat diandalkan, Sabda Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita, dimana, karena kasih-Nya yang begitu besar, menjadi seperti kita [manusia], sehingga Dia dapat membawa kita kepada sebagaimana adanya Dia.”[65]
3)      St. Clement (150 AD)
“Sudah sepantasnya engkau berpikir bahwa Kristus adalah Allah”[66]
4)      St Yustinus Martir (160 AD)
“Bapa alam semesta memiliki seorang Putera. Dan Dia juga Allah”. [67]
5)      Tertullianus (210 AD).
“…Asal dari dua hakekatnya [Yesus] menunjukkan bahwa Dia [Yesus] sebagai manusia dan Tuhan.[68], “Kristus adalah Allah kita”[69]
6)      Origenes (225 AD). 
“Walaupun Dia [Jesus] adalah Tuhan, Dia telah mengambil tubuh; dan menjadi manusia, Dia [Jesus] tetap sebagai Tuhan.”[70]  “Tak seorang pun perlu merasa terhina karena Juruselamat juga adalah Allah”[71]
7)      Novatius (235 AD)
“Dia bukan sekadar manusia, tetapi juga Allah”[72]
8)      Cyprianus dari Kartago (253 AD)
“Barang siapa menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait-Nya [bait Roh Kudus]”.[73]
“Yesus Kristus, Tuhan dan Allah kita”[74]
9)      Lactantius (304).
“Kita percaya Dia [Yesus] adalah Allah”[75]
10)  Arnobius dari Sicca (305 AD).
“… beberapa orang geram, marah, dan bergejolak, dan berkata “Apakah Kristus adalah Tuhanmu?” “Memang Dia adalah Tuhan,” kita harus menjawab, “dan Tuhan di dalam kekuatan yang tersembunyi.”[76] 
I.       Konsili Nicea HANYA merumuskan iman Alkitabiah dan Bapa-bapa Gereja awal sebagai berikut:
“We believe in one Lord, Jesus Christ, the only-begotten Son of God, God from God, light from light, true God from true God, begotten, not made, one in being with the Father. Through him all things were made” (Creed of Nicaea)
“Kami percaya akan satu Allah, Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal, Alllah dari Allah, Terang dari Terang, Allah Benar dari Allah Benar, dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.“
Jadi, jelaslah bawa Yesus tidak dijadikan Tuhan oleh konsili Nikea pada tahun 325, namun Yesus sendiri adalah Tuhan, dan Alkitab, Para Rasul serta Gereja perdana memberi kesaksian tentang hal itu.
J.     Yesus bukan TUHAN ALLAH?
Pada point pertama di atas sudah disinggung bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Pada suatu kesempatan di awal saya memulai menjalankan tugas imamatku, aku dihadapkan dengan sejumlah buku yang menentang ke-Allah-an Yesus. Buku-buku tersebut kubaca dengan pikiran terbuka dan membiarkan isinya mengaduk-aduk pikiranku. Aku teringat bahwa di seminari dulu topik ini tidak sungguh kudalami selain karena saya percaya bahwa Yesus adalah Allah, juga saya tidak menemukan buku-buku yang secara intens menolak ke-Allah-an Yesus. Kini saya dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan seputar ke-Allah-an Yesus. Saya percaya bahwa persoalan ini akan terpecahkan.

Saya mulai merenung:

·      Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa matahari?. Dia adalah cahaya yang tak terhampiri, dan pasti melebihi matahari ciptaanNya. Seorang manusia hina seperti saya, akan meleleh karenanNya. Adalah Allah yang Mahabijaksana tidak mendatangiku dalam rupa  matahari.

·       Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati?. Saya tidak akan mampu menerimanNya sebab saya tidak bisa berkomunikasi dengan hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati. Allah yang Mahabijaksana tidak mendatangiku dalam rupa salah satu pun dari semuanya.

·      Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa surat? Saya tidak akan dapat merasakan bagaimana sesuangguhnya Dia berkorban dan mengambil bagian dalam perjalanan hidup saya. Kebutuhan saya yang paling hakiki adalah bertemu dengan Dia, bukan dengan surat-suratnya. Sebuah surat seberapa pun hebat dan puitisnya dapat saja menipu diriku. Jangan-jangan surat itu berasal dari Iblis yang menyamar seperti malaikat. Allah yang Mahabijaksana tidak mendatangiku dalam rupa surat.

·     Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa seorang manusia? Aku dapat berkomunikasi denganNya, Dia dapat memperagakan belaskasihanNya kepadaku dan aku dapat mencintaiNya. Seluruh kemanusiaanku dapat bertemu denganNya. Allah yang Mahabijaksana telah mendatangiku dalam rupa manusia. Bukankah Allah dapat bertindak cukup dengan bersabda saja? Tuhan dapat melakukan hal itu tetapi Dia tidak memilih cara tersebut. Cara “cukup dengan bersabda saja” adalah pikiran manusia, tetapi bukan kehendak Allah.

Begitulah awal pergulataan saya. Saya percaya bahwa Allah telah menjadi manusia, satu-satunya cara yang paling tepat sesuai dengan kondisi kemanusiaan saya. Allah mampu melakukan hal itu.

Refleksi lanjutan dari pergulatan tersebut memampukan saya untuk menjawab secara memuaskan sejumlah alasan penolakan manusia modern terhadap Ke-Allah-an Yesus.

a)      Frans Donald menulis:
“Kata “Tuhan” yang sering muncul dalam Alkitab diterjemahkan dari kata Adonay (Ibrani), atau Kurios (Yunani), atau Lord (Inggris). Kata Tuhan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Tuan yang diperhalus dengan tambahan huruf “h” di antara “tu” dan “an” menjadi Tuhan. Dari akar katanya tidak ada perubahan atau perbedaan makna antara Tuhan dan Tuan yang sama-sama berarti yang dihormati, atau pimpinan.  “Allah (kata Arab),”  searti dengan “sesembahan” atau “yang patut disembah”, yang searti dengan kata Dewa (Indonesia), God (Inggris), Elohim (Ibrani), Theos (Yunani). Ringkasnya: Tuhan = yang dihormati, atau pimpinan, sedangkan Allah= sesembahan, atau yang patut disembah. Berdasarkan pembedaan tersebut, maka Allah memiliki makna arti yang berbeda dengan Tuhan, dan Allah pasti Tuhan, tapi Tuhan belum tentu Allah”.[1]  



Jawab

Pemakaian Kata/Istilah
Jika kita merunut ke suatu istilah kata, maka kata Allah, tidak tepat untuk menunjuk kepada SANG ADA. Kata Allah tidak sama atau searti dengan “sesembahan” atau “yang patut disembah”. Kata Allah berasal dari kata “al Ilah” yang berarti dewa tertinggi. “Tertinggi” dari apa? Tertinggi dari para dewa lainnya. Jadi, al Ilah tetaplah dewa.  Dewa tersebut dapat saja disebut sebagai sesembahan, hal tersebut tidak sulit dimengerti mengingat ada orang yang menyembahnya. Siapakah yang berani bertaruh bahwa dewa adalah sosok yang patut disembah dalam pengertian SANG ADA? Kecuali bahwa awalnya, al- Ilah itu adalah sesembahan para pagan Arab pra Islam, yang kemudian maknanya diperluas menjadi “PENCIPTA SATU-SATUNYA”. Jika demikian, maka pada dasarnya tidak dapat dikaitkan dengan SESEMBAHAN Ibrani yang memang tidak mengenal sebutan “Allah” itu sbagai TUHAN SATU-SATUNYA. Bahwa dikemudian hari Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, sah-sah saja.  Hal yang sama berlaku untuk kata “Adonay” yang pada awalnya dipakai untuk tuan (Tuhan), tetapi kata itu kemudian mengalami perluasan makna. Yang terpenting bukanlah “kata sebagai kata”, tetapi makna dibalik ungkapan kata itu.
b)      Fakta Penting
Pengkritik di atas menyembunyikan satu fakta lain yang amat penting.  Orang Israel yakin bahwa Sesembahan mereka adalah YHWH, yang dengannya SANG ADA mewahyukan Diri. Dalam buku-buku PL berbahasa Yunani (LXX), nama YHWH yang tidak boleh diucapkan[2] itu diterjemahkan dengan kata Yunani KURIOS (TUHAN). Tuhan menjadi nama yang paling lazim untuk HAKIKAT SESEMBAHAN Israel. PB memakai gelar “Tuhan” untuk Bapa, tetapi pada waktu yang sama dikenakan untuk Yesus, yang dengannya Yesus diakui sebagai YHWH yang menjadi manusia.

K.   Apakah Allah itu?
Jika ada orang menolak ke-Allah-an Yesus, seharusnya ia mulai dari definisi, atau deskripsi tentang “apakah Allah itu”. Jika deskripsi itu sesuai dengan Yesus, maka dapat dipastikan bahwa Yesus adalah Allah. Demikian juga sebaliknya. Jika deskripsi itu tidak cocok dengan Yesus, maka dapat dipastikan bahwa Yesus bukan Allah. Para ahli Alkitab, teolog, bahkan para filsuf telah bertanya dan merefleksikan, mengkontemplasikan apakah benar bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia? Pertanyaan itu terjawab: Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Jawaban tersebut diperoleh karena fakta-fakta Alkitabiah, antara lain,  bahwa Allah adalah Pencipta[3], dan hal itu berlaku juga untuk Yesus. Bandingkan dengan pengakuan berikut ini dalam Injil Yohanes: 
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan[4]. …Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya[5]… Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal, Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.[6]

Jelas bahwa Yesus adalah PENCIPTA SEGALA SESUATU dan TANPA DIA TIDAK ADA SUATUPUN YANG TELAH JADI. Pernyataan itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah.

L.   Karena Kuasa Allah?
Kaum Unitarian menolak kesimpulan itu dengan merujuk pada Matius 28:18 bahwa Yesus dapat melakukan semuanya itu karena diberi kuasa oleh Allah.
Jawab
Pertanyaannya, kapan Allah memberikan semuanya itu? Pertanyaan tersebut hanya dapat dimengerti bahwa pertama-tama Allah menciptakan Yesus, SETELAH ITU barulah Allah memberikan segala kuasaNya kepada Yesus untuk menciptakan segala sesuatu yang lainnya. Jika demikian gugurlah pernyataan kaum unitarian bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu sebab Allah hanya menciptakan Yesus sedangkan yang lainnya diciptakan oleh Yesus. Lagi pula, apakah setelah Allah memberikan segala kuasaNya kepada Yesus, maka Allah tidak berkuasa lagi? Jika dijawab “ya” maka hal seperti itu tidak masuk akal. Kaum Unitarian harus berani menolak keseluruhan Kitab Taurat Musa, khususnya Kejadian, yang dengan terang benderang memberi laporan bahwa “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”[7] Penjelasan yang paling logis atas perbedaan antara Kejadian 1:1 dan Matius 28:18 adalah Allah dan Yesus SEHAKIKAT. “Aku dan Bapa adalah satu”[8]
Penolakan yang dibuat oleh kelompok anti ke-Allah-an Yesus berdasarkan analisis  etimologis kata, tidak cukup kuat. Ambil contoh kata: “ESA” atau “SATU”. ALLAH itu ESA, atau SATU. Apakah artinya? Jika Allah dikatakan ESA atau SATU, maka secara etimologis, kata “SATU Allah “ tidak berbeda dengan pengertian “SATU Kambing”. “Satu” mengungkapkan jumlah, yang dengannya “satunya sesuatu itu” berada dalam ruang dan waktu. Dan itu berarti sesuatu itu terbatas. Jadi, ungkapan Allah satu, atau satu Allah kurang tepat untuk mengungkap realitas SANG ADA. Lainnya halnya kalau kita menggali makna di balik ungkapan “Satu” Allah, atau Allah yang “Esa”.

M.   Nama Yang Tak Boleh Diucap Sembarangan!!!
Selanjutnya, sekali lagi, kita tahu bahwa orang Israel mengenal Sesembahan mereka dengan nama: YAHWE[9]. Nama ini tidak boleh disebut sembarangan[10]  Untuk mencegah pemakaian nama YAHWE secara salah, maka orang Yahudi menyebut YAHWE mereka dengan Adonay (Tuhan). Artinya apa? Tentu orang Yahudi tidak bermaksud untuk mengganti arti dari nama YAHWE menjadi: “YAHWE PASTI TUHAN (ADONAY), SEDANGKAN TUHAN (ADONAY) BELUM TENTU YAHWE” [sebagaimana dimengerti oleh kaum Unitarian]. Sebaliknya, satu-satunya maksud dibalik sebutan Adonay (Tuhan) adalah YAHWE [sebagaimana dimengerti oleh orang Yahudi]. Mereka (Pengarang PL) yang menyebut, menulis/mengganti nama YAHWE dengan Adonay lazim disebut sebagai kelompok Yahwista.
Selain kelompok YAHWISTA ada kelompok lain yakni ELOHISTA. Kelompok ini pun berusaha keras memakai kata lain guna menghindari penyebutan nama YAHWE. Kata yang kerap mereka pakai yakni Elohim. Pemakaian kata Elohim untuk YAHWE tidak pernah dimaksudkan  untuk mengganti arti nama YAHWE: “YAHWE PASTI ELOHIM TETAPI ELOHIM BELUM TENTU YAHWE” [sebagaimana dipahami oleh kaum unitarian]. Maksud satu-satunya di balik ungkapan Elohim itu terarah kepada YAHWE semata.

Unitarian:
Para Rasul Yesus tidak pernah mengimani  bahwa Yesus adalah Yahwe, atau Allah.
Jawab

Kita perlu mengetahui bahwa Para Rasul tidak pernah mengatakan bahwa YESUS BUKAN ALLAH. Sebaliknya, ada banyak teks yang justru menegaskan bahwa Para Rasul mengimani Yesus adalah Yahwe. Ini tercermin dalam ungkapan “Anak Allah” [11]. Apa arti ungkapan itu?

Kami memberikan ilustrasi singkat. Jika kita menyebut “anak kambing” untuk menerangkan bahwa “anak” itu adalah seekor kambing, maka demkikian juga ketika kita menyebut “anak manusia”, maka “anak” itu adalah seorang manusia, bukan hewan, bukan tumbuhan atau benda.  Demikian juga jika ungkapan “Anak Manusia”[12] yang dikenakan pada Yesus membuktikan bahwa Yesus adalah manusia, maka ungkapan “Anak Allah” yang dikenakan kepadaNya juga membuktikan bahwa Dia adalah benar-benar Allah.



Unitarian:

“Jika demikian, maka semua orang adalah Allah juga sebab orang-orang Yahudi dan Kristen pun disebut anak-anak Allah, Jemaat Allah”[13]

Jawab

Tentu saja tidak. Ungkapan “Anak Allah”  merupakan bukti bahwa Yesus adalah Allah karena ditopang oleh bukti-bukti lain yang akurat.  Bukti pendukung lain bahwa Yesus adalah Allah, misalnya  ungkapan “Jemaat Allah”  yang dipakai oleh Paulus dan para Rasul. Ungkapan “Jemaat Allah” menegaskan bahwa pemilik dari Jemaat itu adalah Allah. Di samping butki-bukti tersebut, kita perlu mencermati keseluruhan pengajaran Alkitab tentang Yesus.

Mari kita lihat  beberapa contoh pemakaian gelar “Anak Allah” yang keluar dari mulut Para Rasul dalam sejumlah  Teks PB:

N. Pengakuan Petrus dan Teman-temannya:

“Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."[14].
Jika Yesus bukan Tuhan sudah tentu Dia melarang murid-muridNya menyembah Dia. Ingatlah perkataan Yesus sendiri:
“Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" [15].
 “Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"[16]
Dan ketika Ia [Yahwe] membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia [Yesus]." [17]
Dari teks-teks di atas tidak dapat tidak harus disimpulkan bahwa Rasul Petrus dan teman-temannya mengakui bahwa Yesus adalah Allah, sehakikat dengan Bapa-Nya.

1.      Pengakuan dan pernyataan Petrus sendiri: 
a)      Yesus adalah Allah
“Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" [18] “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.[19]
b)      Petrus: Allah memilih aku
"Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.”[20] Perkataan Petrus ini makin menjadi jelas dan masuk akal ketika dikonfirmasi ke panggilan Petrus sendiri untuk menjadi pemberita Injil.  “Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.  Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot,  dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. [21]

Jika demikian, siapakah Allah yang dimaksud oleh Petrus dalam Kisah Para Rasul 15:7? Dia tidak lain adalah Yesus. Yesus itulah yang memilih Petrus untuk memberitakan Injil.

Bandingkan dengan perkataan Yesus dalam sejumlah teks berikut ini:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."[22]

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. [23]
Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.[24]

c)      Petrus: Yesus adalah Allah yang mengenal hati manusia

 “Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. [25]

Perkataan Petrus ini telah diucapkannya ketika Yesus masih bersama mereka di Galilea.

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.[26]

d)     Petrus: Yesus adalah Allah yang mengaruniakan Roh Kudus

Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." [27]
Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita.[28]
Pernyataan Petrus itu menggaungkan kembali peristiwa bagaimana Yesus telah menganugerahkan Roh Kudus kepada para muridNya. Allah yang memberi para murid Roh Kudus. Konkritnya, Allah yang memberi Roh Kudus itu adalah Yesus sendiri.
 “Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." [29]
Kami menantang Anda untuk mengemukakan satu saja ayat Alkitab dimana YAHWE Perjanjian Lama memberikan Roh Kudus kepada para murid Yesus! Tidak ada.!!!
Perhatikan!!! Jika Yesus bukan Allah, bagaimana mungkin Dia dapat memberikan kuasa pengampunan dosa kepada manusia? Kaum Unitarian akan menjawab: Yesus memiliki kuasa pengampunan dan kuasa mendelegasikan pengampunan karena Allah telah memberikan segala kuasaNya kepada Yesus. Dengan demikian mereka serentak menolak pernyataan Alkitab bahwa HANYA ALLAH YANG BERKUASA MENGAMPUNI DOSA.[30] Kesulitan lainnya, dapatkah seorang manusia yang menerima kuasa pengampunan itu mendelegasikannya lagi kepada orang lain? Itu mustahil! Sesungguhnya hanya Allah saja yang berkuasa mengampuni dan hanya Dia pula yang berhak mendelegasikan kuasa pengampunanNya kepada manusia.
e)      Jemaat Allah
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat[Jemaat] kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.[31]
Ungkapan di atas merupakan refleksi seluruh identitas orang Kristen sebagai umat milik Allah sendiri. Allah yang dimaksud tidak hanya dialamatkan kepada Bapa, tetapi serentak kepada Yesus.  Pada dasarnya, orang-orang Kristen adalah Jemaat Kristus. Karena dan dalam Kristus itulah orang Kristen mengenal Allah.  Perhatikan perkataan Yesus berikut ini:
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (GerejaKu) dan alam maut tidak akan menguasainya.[32]
Setiap kali Para Rasul menyebut “Jemaat Allah” serentak mereka mengakui bahwa Yahwe adalah Allah dan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Itulah yang dimaksud oleh Paulus “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.” [33]

f)       Petrus: Keadilan Allah dan Juruselamat, Yesus Kristus
Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.[34]
Ayat pertama menegaskan bahwa iman diperoleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Jadi, Dia yang disebut Allah dan Juruselamat itu tidak lain adalah Yesus Kristus.
Ayat edua meneguhkan kenyataan itu: Allah dan Yesus adalah Tuhan kita. Barangkali pernyataan iman bahwa Yesus adalah Allah menyakitkan hati banyak orang. Yesus tidak memaksa siapa pun untuk menerima Dia sebagai Juruselamatnya[35]. Perkara pun selesai.
2.      Pengakuan Natanael:
“Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" [36]
3.      Pengakuan Yohanes:
“Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”.[37]
Lagi, pengakuan Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah” Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia.” Ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam wujud manusia.
4.      Pengakuan Paulus
Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri[38]”.
Pernyataan Paulus ini sangat jelas dan lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa ia sangat percaya bahwa Yesus adalah Allah. Paulus tidak pernah diperintahkan oleh Yahwe untuk memberitakan seluruh maksud-Nya, tetapi Yesuslah yang mengutus Paulus untuk memberitakan maksudNya.
Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." [39]
Jadi, ketika Paulus berkata: “memberitakan seluruh maksud Allah”, itu berarti ia menyatakan Yesus adalah Allah, atau menyamakan Yesus dengan Allah.
Tidak heran kalau Paulus menasihati kita dengan berkata:

 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa![40]

Frasa-frasa yang terkandung dalam pernyataan Paulus ini menegaskan pula tentang ke-Allah-an Yesus. Jika benar bahwa frasa “rupa seorang hamba” menegaskan bahwa Yesus adalah manusia yang menjadi hamba, maka farsa “dalam rupa Allah” pastilah menegaskan bahwa Yesus adalah Allah.

 “Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita[41]. “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku[42] “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus[43]
Mengingat Alkitab tidak menyertakan tanda baca (titik atau koma, dll), maka dapat saja Roma 1:4 menjadi: “: “Ia adalah Anak, Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”

Lihat juga pernyataan Paulus berikut ini:

Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.[44]

Di sini Paulus membedakan antara orang Yahudi,  kemudian orang Yunani dan Jemaat Allah [ yang tentu saja maksudnya adalah murid-murid Kristus/Gereja].
Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah[45].
Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya[46].
Keterangan “TELAH MENGANIAYA JEMAAT ALLAH”  adalah refleksi atas tindakan Paulus setelah ia ditegur oleh Yesus. “MENGAPA ENGKAU MENGANIAYA AKU”? Paulus menganiaya murid-murid Yesus dan ternyata Yesus mengidentifikasi diriNya dengan para pengikutNya. Maka perkataan “Jemaat Allah” itu adalah Jemaat Yesus/Pengikut Yesus. Dengan demikian Paulus menyatakan dan mengimani bahwa Yesus adalah ALLAH
Dalam terang itulah kita dapat memahami ungkapan “Jemaat Allah” dalam I Korintus  1:2 11:16.22, II Korintus  1:1,  I Tesalonika  2:14, II Tesalonika  1:4 I Timotius  3:5
Paulus menyemangati kita guna menantikan kedatangan Allah dan Juruselamat kita  Yesus Kristus.
“ Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.[47]
Dalam Ibrani 1:8, Bapa berbicara mengenai Yesus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: `Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.”

Tahta seorang manusia fana tidak mungkin akan tetap untuk seterusnya dan selamanya. Juga tongkat kerajaan seorang manusia tidak bebas dari intrik kekuasaan manusia yang bersalah, atau tidak benar.

5.      Pernyataan Pengarang Matius dalam Matius 3:3,
"Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: 'Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.
Pernyataan di atas diambil dari, Yesaya 40:3,
 "Ada suara yang berseru-seru: 'Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!'" 

Jika kata “TUHAN” dalam Yesaya bermaksud TUAN, makan hal yang sama berlaku untuk Matius 3:3. Sebaliknya, jika kata TUHAN dalam Yesaya menunjuk kepada Allah, maka hal yang sama berlaku untuk Matius 3:3.

Jika ada yang memahami kedua teks tersebut secara lain itu berarti bertentangan, tidak hanya dengan Yesaya tetapi juga dengan Matius. Kata “Tuhan” yang dipakai oleh Yesaya, diambil alih oleh Matius, sementara itu “Tuhan” yang dimaksud oleh Yesaya adalah Allah, bukan Tuan. Jika  demkian, maka kesimpulan yang paling logis ialah bahwa Matius menyetujui maksud Yesaya. Jadi, kata “Tuhan” yang dimaksud oleh Matius adalah pasti Allah sesuai dengan maksud Yesaya.
“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan” itu sama dengan persiapkanlah jalan untuk Allah. Karena Matius 3:3, menunjuk kepada Yesus, maka sekali lagi Matius menegaskan bahwa Yesus adalah YAHWE, TUHAN ALLAH. Lagi pula, kalau Yesus bukan Allah tetapi tuan, maka amat tidak masuk akal pernyataan: “persiapkanlah…dan luruskanlah jalan baginya”. Untuk apa mempersiapkan jalan bagi seorang tuan. Karena tak ada seorang pun manusia yang tidak jatuh dalam dosa, maka tidak masuk akal bahwa orang Israel harus bertobat terlebih dahulu dari dosa mereka, baru kemudian mereka dapat menerima kehadiran seorang manusia, yang justeru seorang pendosa juga.  Hal seperti itu mustahil. Sama musthilnya dengan pendapat yang mengatakan bahwa Yesus bukan Allah.

6.      Pengakuan dan pernyataan dari Thomas.
engenai Yesus, Thomas, sang murid berseru, "Ya Tuhanku dan Allahku![48]" Yesus tidak pernah memperbaiki  keyakinan muridNya yang satu ini. Kami menantang siapa saja yang menyebut dirinya mengenal Alkitab HARUS berkata seperti yang dikatakan oleh Thomas dihadirat Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku”. 
Jadi, berdasarkan teks-teks tersebut, maka dengan mantap kita katakan:  PARA RASUL MENYEBUT DAN MENGIMANI BAHWA YESUS ADALAH YAHWE YANG MENJADI MANUSIA

Hal- hal yang dapat menjauhkan dan manghalangi diri dalam mengikuti Roh Kudus?

1.      Kebiasaan hidup yang cenderung : nyontek, free sex, menipu, egois, jarang mengikuti kegiatan rohani, rasa takut, rasa marah, berbohong, bersaksi dusta
2.      Tidak mematuhi perintah-perintah Allah akan menghalangi kita dari menerima Roh kudus
3.       Pertama, bisa kita katakan bahwa hal itu karena mereka belum menyangkal diri
4.       karena mereka tidak bisa menyangkali keinginan kedagingan mereka. 
5.      Tidak menginginkan kehadiran Roh Kudus, hingga harus berhenti hidup dipenuhi Roh Kudus.
6.      Kalau kita tidak mengikuti Dia dan memilih untuk hidup dengan kekuatan sendiri, roh dan tubuh sendiri
Hal- hal yang dapat mendekatkan  diri dalam mengikuti Roh Kudus

Kita harus menyangkal diri, memikul salib,
Dan menolak pikiran jahat, menyerahkan diri
untuk mengabarkan Injil

Kepenuhan Roh Kudus pada zaman ini, bahwa Roh Kudus akan mendiami orang-orang percaya secara permanen,karena :
1.       Roh Kudus adalah hadiah bagi semua orang yang percaya pada Yesus Kristus tanpa perkecualian dan tanpa syarat kecuali iman di dalam Yesus Kristus
2.      Roh Kudus diberikan untuk /saat keselamatan
3.      Roh Kudus mendiami orang-orang percaya secara permanen. Roh Kudus diberikan pada orang-orang percaya sebagai jaminan bagian kita, atau sebagai pembuktian dari masa depan yang mulia di dalam Kristus
4.      Yang menghalangi kita dari dipenuhi oleh Roh Kudus adalah dosa, dan ketaatan kepada Tuhan adalah cara untuk mempertahankan kepenuhan Roh Kudus
Sejauh mana Saya telah mengijinkan Roh Kudus memperbaharui hidup saya?
Jawab:
Seperti  orang Samaria meski belum mengenal Allah ia selalu berbuat baik kepada sesama manusia tanpa memikirkan imbalan. Semua ia lakukan hanya demi menyelamatkan orang/sesama yang ia jumpai. Dengan contoh dan teladan itu maka segala perbuatan kebaikan demi menyelamatkan sesama maka Roh Kudus akan semakin bekerja dan menunjukkan jalan kebenaran pada saya untuk mencapai kedekatan pada Allah sendiri yaitu keselamatan

1.      PENGERTIAN
Hati nurani berasal dari kata bahasa Latin Conscientia yang berarti kesadaran. Conscientia terdiri dari dua kata yaitu CON dan SCIRE. Con berarti bersama-sama dan Scire berarti mengetahui. Jadi Conscientia berarti mengetahui secara bersama-sama/turut mengetahui. Artinya, bukan saja saya mengenal seseorang tetapi saya juga turut mengetahui bahwa sayalah yang mengenal. Atau, sambil mengenal, saya (subyek) sadar akan diri (obyek) sebagai subyek yang mengenal.

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan dua arti dan makna hati nurani yaitu:
a)       Arti luas:
Hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia
b)      Arti sempit:
Hati nurani berarti penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret
2.      SEGI-SEGI HATI NURANI
a)      Segi Waktu
·       Hati nurani dapat berperan SEBELUM suatu tindakan dibuat. Hati nurani akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang kalau perbuatan itu buruk
·       Hati nurani dapat berperan PADA SAAT suatu tindakan. Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu buruk.
·       Hati nurani dapat berperan SESUDAH suatu tindakan dibuat. Hati nurani akan memuji jika perbuatan itu baik dan menyesal jika perbuatan itu buruk.
b)      Segi Benar-Tidaknya
·        Hati nurani benar jika kata hati kita cocok dengan norma objektif
·        Hati nurani keliru jika kata hati kita tidak cocok dengan norma objektif
c)      Segi Pasti-Tidaknya
·       Hati nurani yang pasti artinya secara moral dapat dipastikan bahwa hati nurani tidak keliru
·         Hati nurani yang bimbang artinya masih ada keraguan
3.      PEDOMAN YANG DAPAT DIPEGANG DALAM HIDUP
Dalam keseharian hidup, begitu sering kita menemukan atau mengalami banyak hal. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dipegang sebagai panduan hidup.
·         Jika kata hati nurani yang benar dan pasti maka:
Perbuatan yang baik dan harus dilakukan
Perbuatan yang buruk harus dielakkan
·         Jika kata hati nurani pasti tetapi keliru maka:
Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan

Contoh:
seorang remaja merasa pasti bahwa hari senin adalah hari puasa kaka ia harus berpuasa, walaupun keliru. Perbuatan yang buruk harus dielakan

Contoh:
seorang remaja merasa pasti bahwa mencium kekasihnya adalah dosa, maka ia harus mengelakkannnya walaupun pandangannya itu keliru.

Ø  Jika kata hati nurani yang tidak pasti maka:
Seseorang dapat memilih yang paling menguntungkan (minus-malum=yang paling sedikit keburukannya)
Ø  Jika menyangkut nyawa manusia, maka keselamatan nyawa itu harus didahulukan.
4.      FUNGSI HATI NURANI
·    Sebagai pegangan, pedoman atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.
·    Sebagai pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari
·     Menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.
5.      SIKAP KITA TERHADAP HATI NURANI
§  Menghormati setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita
§  Mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani
§  Mempertimbangkan secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan oleh hati nurani
§  Melaksanakan apa yang disuruh oleh hati nurani
  1. PANDANGAN GEREJA
·     Santo Paulus menegaskan bahwa dalam diri setiap orang ada dua hukum yang saling bertentangan satu sama lain yaitu hukum ALLAH dan hukum DOSA. Hukum Allah mengajarkan kebaikan dan hukum dosa mengajarkan kejahatan. Jadi di dalam diri setiap orang selalu ada pergulatan antara baik dan jahat.
·      Menurut Konsili Vatikan II dalam dokumen Gaudium et Spes (kegembiraan dan harapan) artikel 16: “Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri melainkan harus ditaati. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik dan menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jalankan ini dan elakkan itu. Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar suci di situ ia seorang diri bersama Allah, yang pesanNya menggema dalam hatinya. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama.”
  1. BEBERAPA HAL YANG MEMBUAT HATI NURANI TUMPUL/BUTA/MATI
Dalam kalangan remaja, ada banyak hal yang membuat hati nuraninya tumpul, misalnya:
Kebiasaan nyontek, free sex, menipu, egois, jarang mengikuti kegiatan rohani, rasa takut, rasa marah, dll.

  1. CARA MEMBINA SUARA HATI
Ada beberapa cara membina suarah hati/hati nurani yaitu:
§  Mengikuti suara hati dalam segala hal
§  Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nuraninya akan semakin terang dan berwibawa
§  Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinan akan menjadi sehat dan kuat.
§  Mencari keterangan pada sumber yang baik
§  Membaca bacaan rohani: Kitab Suci, dokumen gereja dan buku-buku rohani lainnya
§  Bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang dapat dipercaya
§  Mengikuti kegiatan rohani: rekoleksi, retret, perayaan ekaristi, dll.
§  Koreksi diri atau introspeksi diri
§  Secara rutin mengevaluasi diri dan pengalaman setiap hari, entah itu pengalaman positif maupun sebaliknya.

Santo Paulus dalam surat kepada jemaat di Galatia 5: 17 mengatakan bahwa kita harus memberikan diri dipimpin oleh Roh. Kita harus berusaha memenangkan hati nurani kita dan mengalahkan kecenderungan kita yang menyesatkan. Kita harus peka terhadap sapaan dan rahmat Allah.
Selanjutnya dalam Konsili Vatikan II khususnya dalam Gaudium et Spes artikel 16, dikatakan bahwa manusia tidak boleh tunduk dan mengalah pada situasi yang membelenggu suara hati. Dengan bantuan Roh Allah, kita dimampukan untuk mengalahkan kekuatan dahsyat yang menguasai suara hati kita yang oleh Santo Paulus disebut kuasa atau keinginan daging.
Perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, egois, kemabukan dll.

Perbuatan/buah Roh: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan

Ctt:
1)   Hati nurani adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah satu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah laksanakan, baik atau buruk secara moral. Dalam segala sesuatu yang ia katakana atau lakukan, manusia berkewajiban mengikuti dengan seksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan hukum ilahi.
2)   Hati nurani adalah “hukum roh” dan juga suatu “bisikan langsung”, dalamnya terdapat juga “gagasan pertanggungjawaban, kewajiban, ancaman, dan janji… Ia adalah utusan dari Dia yang berbicara kepada kita baik di dalam alam maupun di dalam rahmat di balik satu selubung dan mengajar serta memerintah kita melalui wakil-wakil-Nya. Hati nurani adalah wakil Kristus yang asli”
3)   Bandingkan  Rm 1 : 32, Rm 2 :14 - 16

R.   Sepuluh Perintah Allah
Segera setelah penyelamatan mereka dari Mesir, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa dan berkata, "Engkau membawa kami ke alam bebas untuk mati. Kami tidak punya air dan makanan".
arena kasih yang teramat besar, Tuhan menjawab keraguan mereka dengan memberikan mereka air. Dan Tuhan juga berfirman, "Lihatlah, Aku akan menurunkan hujan roti bagimu dan kau akan mengumpulkannya setiap pagi." Maka terjadilah, dan mereka memberi roti itu dengan nama “manna”.
Bangsa ini kemudian berkemah disekitar gunung Sinai. Tiba-tiba terdengarlah suara guruh dan kilat diatas gunung, dan dari dalam awan yang tebal itu, terdengarlah suara terompet yang sangat keras sehingga semua orang ketakutan. TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat.
The Lord callled Moses up to the top of the mountain and gave him the Ten Commandments.
Tuhan memanggil Musa untuk naik ke atas gunung dan berfirman," Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan." Setelah Tuhan berfirman, Ia menuliskan sepuluh perintah diatas dua loh batu.

10 The commandments of God

1)      "You shall have no other gods before me.
2)      "You shall not make for yourself a graven image or bow down to them or serve them.
3)      Don't take the name of the LORD your God in vain.
4)      Remember the sabbath and keep it holy.
5)      Honor your father and mother.
6)      "You shall not murder.
7)      "You shall not commit adultery.
8)      Do not steal.
9)      You shall not bear false witness against your neighbor.
10)  "You shall not covet your neighbor's house; you shall not covet your neighbor's wife, nor anything that is your neighbor.

10 PERINTAH ALLAH

1.      Jangan ada padamu allah lain di hadapan -Ku.
2.      Jangan membuat bagimu patung atau sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
3.      Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.
4.      Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.
5.      Hormatilah ayahmu dan ibumu.
6.      Jangan membunuh.
7.      Jangan berzinah.
8.      Jangan mencuri.
9.      Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10.  Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Tuhan memberikan suatu ukuran kekudusan yang sempurna melalui perintah-perintah ini, tapi Dia juga menunjukkan kepada Musa apa yang mereka harus lakukan jika melanggar perintah tersebut.
Berfirmanlah Tuhan, "Bangunlah sebuah mezbah bagiKu. Dan persembahkanlah korban bakaranmu maka Aku akan memberkatimu. Darah akan menutupi dosamu dan Aku akan mengampunimu".











S.     Dasar ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga

Apa dasar ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga?


Dogma Maria diangkat ke surga berhubungan dengan ajaran Gereja Katolik tentang Bunda Maria yang lainnya, yaitu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Allah, sehingga Maria menjadi ‘Sang Tabut Perjanjian Baru’ yang mengandung Kristus sebagai penggenapan Perjanjian Lama.  Sama seperti Kristus yang dikandungnya dimuliakan Allah dengan kenaikan-Nya ke surga, demikian pula Maria dimuliakan oleh Allah dengan diangkat ke surga setelah akhir hidupnya di dunia.

Pengangkatan Maria ke surga ini memberikan pengharapan bagi penggenapan janji Allah kepada semua umat beriman yang setia sampai pada akhirnya.
1.     Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru yang selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus yang dikandungnya.
Kitab Mazmur mengajarkan, “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!” (Mzm 132:8). Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, akan selalu bersama dengan Kristus.
Jika Henokh dan nabi Elia dapat diangkat oleh Tuhan ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Tuhan Yesus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya.
2.     Kitab Suci menggambarkan secara figuratif bahwa Bunda Maria adalah ratu, yang menerima kemuliaan karena kemuliaan Puteranya.
Kitab Raja- raja mengisahkan bagaimana Raja Salomo (anak Raja Daud) menghormati ibunya, Batsyeba, dan raja menyediakan tempat bagi bundanya di sebelah kanannya (lih. 1 Raj 2:19). Kristus, sebagai Raja keturunan Daud dan Putera Allah sendiri, akan berbuat yang sama, yaitu menghormati ibu-Nya dan menyediakan tempat baginya di sisi kanan-Nya di Surga. Jika raja di dunia tahu menghormati ibunya, maka Kristus Sang Raja di atas segala raja, tidak akan kurang dalam memberi penghormatan kepada ibu yang melahirkan-Nya ke dunia.
Kitab Mazmur menggambarkan perkawinan raja, di mana raja yang digambarkan di sana adalah Kristus: “Engkau yang terelok di antara anak- anak manusia…. Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya…. sebab itu Allah telah mengurapi engkau… di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, disebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.” (Mzm 45:3-10) Permaisuri di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja, sebagaimana ratu Batsyeba di jaman Raja Salomo.
Kitab Wahyu menggambarkan Tabut perjanjian sebagai seorang perempuan yang mengandung Anak laki- laki, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya…. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…” (Why 11:19- 12:1-12). Gereja Katolik menginterpretasikan ‘perempuan’ ini secara literal sebagai Bunda Maria, yaitu “perempuan” yang sama yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Namun demikian, Gereja Katolik juga menerima interpretasi allegoris lainnya, yaitu bahwa ‘perempuan’ ini dapat diinterpretasikan sebagai Gereja, Israel ataupun Yerusalem sorgawi.
3.     Pengangkatan Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah.
Kitab Suci mengatakan bahwa seorang perempuan (yaitu Bunda Maria) yang keturunannya (Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (lih. Kej 3:15); dan bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (lihat Rom 5-6, 1 Kor 15:21-26) di mana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor 15:54-57).
Rasul Paulus mengajarkan bahwa “…jika kita menderita bersama-sama dengan Dia [Kristus]…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17). Kehidupan Bunda Maria sendiri diwarnai berbagai penderitaan bersama Kristus, dan nubuat Nabi Simeon bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35) tergenapi di kaki salib Kristus, saat Bunda Maria melihat Yesus Puteranya disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Oleh sebab Bunda Maria adalah ibu yang melahirkan Kristus dan karena itu dibebaskan Allah dari noda dosa, dan sebab Bunda Maria adalah murid Kristus yang pertama menderita bersama-Nya dengan sempurna, maka layaklah bahwa Tuhan Yesus memenuhi janji dalam Rom 8:17 ini dengan mengangkat Bunda Maria secara sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam kemuliaan surga, di akhir hidupnya. Sebab dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Kristus adalah buah sulung yang bangkit dari mati, dan kemudian diikuti oleh orang- orang lain [yaitu umat beriman] menurut urutannya (lih. 1 Kor 15:23). Sepantasnyalah Maria, sebagai ibu Yesus, menempati urutan kedua setelah Yesus. Bunda Maria menjadi yang pertama dari umat beriman yang ditempatkan di sebelah kanan Allah, sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada mereka yang beriman dan hidup sesuai dengan imannya (lih. Mat 25:33).
Akhirnya, perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ Tuhan ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga.  Maria ‘diangkat’, jadi bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri. Bagi umat Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan akan kebangkitan badan di akhir zaman. Kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, akan mengalami apa yang dijanjikan Tuhan itu: bahwa kita akan diangkat ke surga, tubuh dan jiwa untuk bersatu dengan Dia dalam kemuliaan surgawi. Maka, dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi merupakan perayaan akan pengharapan kita sebagai murid- murid Kristus.

4.     Dasar Kitab Suci

a)    Kej 3:15: Seorang perempuan [Maria] dan keturunannya [Yesus] akan meremukkan kepala ular [Iblis]
b)   1 Raj 2:19: Bunda raja menerima penghormatan dari raja dan ditempatkan di sisi kanan raja
c)    Mzm 45:3-10: Permaisuri berpakaian emas di sisi kanan raja
d)   Why 11:19- 12:1-12: Bunda Maria, Sang Tabut perjanjian dan perempuan yang melahirkan Anak laki- laki [Kristus] yang memimpin dunia.
e)   Rom 5-6:23: Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal. (Maka Maria yang tidak berdosa, tidak mengalami kerusakan akibat maut)
f)     1 Kor 15:21-26: Semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus, tiap- tiap orang menurut urutannya.
g)    1 Kor 15:54: Maut ditelan dalam kemenangan (ini digenapi dalam diri Bunda Maria yang tak berdosa)
h)   Rom 8:17: Mereka yang menderita bersama Yesus akan dimuliakan bersama Dia.

5.     Dasar Tradisi Suci
a)    Pseudo- Melito (300): Oleh karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]: “Jadilah seperti perkataanmu”. (The Passing of the Virgin16:2-17)
b)   Timotius dari Yerusalem (400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke tempat pengangkatannya. (St. Timothy of Jerusalem, Homily on Simeon dan Anna, 400)
c)       Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dab dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah dipindahkan ke surga (John the Theologian, The Dormition of Mary)
d)        Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya  [jenazah Maria] dari peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya, mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu diangkat di awan kesurga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria] bersukacita dengan para terpilih Tuhan … (Gregory of Tours, Eight Books of Miracles 1:4)
e)        Theoteknos dari Livias (600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak, diterangi oleh rahmat ilahi dankemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia untuk sementara dan diangkat ke surgadengan kemuliaan, dengan jiwanya yang menyenangkan Tuhan (Theoteknos, Homily on the Assumption)
f)         Modestus dari Yerusalem (sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya. (Modestus, Encomium in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis Mariae)
g)        Germanus dari Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu. Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam kehidupan yang sempurna (Germanus, Sermon I).
h)        Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya. Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai, yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya, dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan (John Damascene,Dormition of Mary)
i)        Gregorian Sacramentary (795)
Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu, namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu, Tuhan kami yang menjelma dari dirinya. (Gregorian Sacramentary, Veranda, ante 795)

6.     Dasar Magisterium
a)      Paus Pius XII dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, mengajarkan,
“Oleh karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala kekekalan digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak tertinggi dari segala haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar bebas dari kerusakan kubur dan bahwa seperti Puteranya, setelah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemegahan di sisi kanan Putera-Nya, Raja segala masa yang kekal (lih. 1 Tim 1:17,Munificentissimus Deus, 40)
“…. dengan kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus, [kuasa] dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan dengan kuasa kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan menentukannya sebagai dogma yang ilhami Roh Kudus: bahwa Bunda Maria yang tidak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan kehidupannya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (Munificentissimus Deus, 44)
b)      Konsili Vatikan II:
“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium 59)
c)       Katekismus Gereja Katolik:
KGK 966 “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (Lumen Gentium  59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.
“Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

Tentang Bunda Maria dan St. Yusuf

Mau nanya nih..soalnya sampe sekarang masih penasaran:
1.       setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, kemana Bunda Maria pergi. apakah Bunda Maria itu meninggal dulu baru kemudian di angkat ke surga?? dimana kuburnya? hidup sampai umur berapa??
2.       Santo Yosef (suami Bunda Maria) perannya bersama Yesus berdasarkan KS PB hanya sampai pada saat mereka menemukan Yesus yang waktu itu umur 12 thn di dalam Bait Allah. setelah itu kemana st.Yosef pergi? apakah Dia tetap hidup membesarkan Yesus bersama Bunda Maria di nazareth?
thanks atas jawabannya.

Jawaban:

Shalom Saudaraku
1.         Memang tidak dapat diketahui dengan pasti di mana Bunda Maria hidup setelah hari Pentakosta. Dikatakan mungkin ia hidup di Yerusalem seterusnya sampai ia wafat, atau bisa juga, dia tinggal selama beberapa saat di Efesus, sehingga ada tradisi yang mengatakan Maria wafat dan dikubur di sana. Namun tradisi yang umum dipegang oleh para Bapa Gereja sampai abad ke-2 adalah bahwa Maria wafat di Yerusalem. Tradisi ini diperoleh dari tulisan St. Klemens dari Alexandria (136) dan Apollonius (137) yang mengisahkan perintah dari Tuhan Yesus kepada para rasul untuk mengajar di Yerusalem dan Palestina selama 12 tahun sebelum pergi seluruh dunia. Catatan ini menyimpulkan bahwa Bunda Maria wafat sekitar tahun 48, sebelum Rasul Yohanes pergi meninggalkan Yerusalem.
Memang tradisi mengatakan Bunda Maria wafat, sebelum ia diangkat ke surga oleh Tuhan. Walaupun demikian, wafatnya Bunda Maria bukan karena ia berdosa, namun kerena ingin mempersatukan dirinya dengan Kristus, yang juga mengalami kematian, meskipun Dia tidak berdosa. Kematian Bunda Maria adalah juga merupakan puncak yang melengkapi kehidupannya yang penuh dengan pengorbanan. Menurut Tradisi Gereja Katolik, setelah wafatnya, Bunda Maria segera diangkat ke surga tubuh dan jiwanya, sehingga memang tidak ditemukan secara pasti di mana kuburannya, ataupun jenazahnya. Jika anda ingin mengetahui dasarnya mengapa Gereja Katolik mengajarkan Bunda Maria diangkat ke surga, silakan klik di sini. Menurut tradisi, dikatakan bahwa kubur Bunda Maria ada di lembah Kidron, meskipun ada juga yang mengatakan kemungkinan kuburnya ada di Efesus. Tetapi di sini yang ada tentu hanya ‘kubur kosong’. Silakan membacanya lebih lanjut di link ini, silakan klik.
2.         Tentang St. Yusuf. Memang di Kitab Suci ia tidak lagi dibicarakan setelah kisah Yesus diketemukan di Bait Allah pada usia 12 tahun. St. Yusuf sudah tidak disebutkan pada waktu Yesus mengajar, ataupun pada saat Ia wafat di salib. Maka tradisi mengatakan St. Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus mulai mengajar. Sebab tidak mungkin Yesus (pada saat terakhirnya di kayu salib) memasrahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid yang dikasihi-Nya, jika St. Yusuf masih hidup. Memang ada beberapa tradisi tentang St. Yusuf, ada yang menceritakan ia sudah tua saat mengambil Maria sebagai istrinya, namun ada juga yang tidak mengatakan demikian. Menurut kisah penglihatan seorang biarawati dari Agreda (Spanyol),  bernama Maria yang terberkati (1602-1665),  St. Yusuf mengambil Bunda Maria sebagai istrinya ketika ia berumur sekitar umur 33 tahun, sedangkan Bunda Maria umur sekitar 14 tahun.  Jika anda ingin membaca lebih lanjut mengenai hal ini, silakan klik di link ini, yang  juga menceritakan kematian St. Yusuf yang damai/ menyenangkan. St. Yusuf meninggal dunia di usia perkawinan ke 27 tahun, jadi sebelum Yesus mengajar.


T.    Doa sebelum Komuni dan Doa sesudah Komuni


Tuhan yang Mahabesar dan kekal,aku menghadap sakramen Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Aku datang sebagai orang yang sakit kepada Sang Tabib Kehidupan, sebagai orang yang berdosa ke hadapan mata air belas kasih, sebagai orang buta ke hadapan Terang yang kekal,
sebagai orang miskin dan papa kepada Tuhan langit dan bumi.

Karena itu, aku memohon kelimpahan rahmat-Mu yang tak terbatas agar Engkau berkenan memulihkan penyakitku, mencuci noda dosaku, menerangi kebutaanku, memperkaya kemiskinanku, sehingga aku dapat menerima Roti para malaikat, Raja dari segala raja, dengan segala penghormatan dan kerendahan hati, dengan kasih yang besar, dengan kemurnian dan iman, dengan tujuan dan maksud yang dapat berguna bagi keselamatan jiwaku.

Berikankah kepadaku, kumohon, rahmat untuk menerima tidak saja sakramen Tubuh dan Darah Tuhan kami, tetapi juga rahmat dan kuasa dari sakramen ini.  O, Tuhan yang Maha Pemurah, dengan menerima Tubuh Putera-Mu yang Tunggal, Tuhan kami Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Perawan Maria, karuniakanlah kepadaku rahmat untuk boleh digabungkan dengan Tubuh Mistik-Nya dan terhitung sebagai anggota- anggota Tubuh-Nya.

O Tuhan yang Maha Pengasih, berikanlah kepadaku rahmat untuk memandang wajah sesungguhnya dari Putera-Mu terkasih selamanya di surga, yang kini akan kuterima dalam rupa yang terselubung.
Amin.

Jiwa Kristus, kuduskanlah aku
Tubuh Kristus, selamatkanlah aku
Darah Kristus, sucikanlah aku
Air dari lambung Kristus, basuhlah aku
Sengsara Kristus, kuatkanlah aku
O Yesus yang murah hati, luluskanlah doaku
Ke dalam luka- luka-Mu sembunyikanlah aku.
Buatlah agar aku tidak terpisah dengan-Mu.
Dari si Jahat yang curang, bela-lah aku.
Di saat ajalku, terimalah aku.
Dan perintahkanlah aku untuk datang kepada-Mu.
Sehingga dengan para kudus-Mu aku dapat memuji Engkau.
Selamanya.
Aku berterima kasih kepada-Mu, Bapa yang kekal, karena oleh belas kasihan-Mu yang murni
Engkau telah berkenan memberi makan jiwaku dengan Tubuh dan Darah Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kumohon kepada-Mu agar Komuni kudus ini tidak menjadi kutukan bagiku,
tetapi menjadi penghapusan yang berdayaguna untuk semua dosaku. Semoga Komuni ini menguatkan imanku, membangkitkan di dalamku semua yang baik, membebaskan aku dari kebiasaan- kebiasaan buruk, menghapuskan semua kecondongan terhadap dosa, menyempurnakan aku di dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati, baik yang kelihatan dan tak kelihatan, menjadikankanku bersahaja dalam segala hal, mempersatukanku dengan-Mu dengan erat, Sang Kebaikan sejati, dan tempatkanlah aku  dalam kebahagiaan yang tak dapat berubah .
Kini aku memohon dengan sungguh agar suatu hari nanti Engkau akan menerima aku, meskipun aku orang berdosa dan tidak layak, untuk menjadi seorang tamu pada Perjamuan Ilahi di mana Engkau, dengan Putera-Mu dan Roh Kudus, adalah Terang Ilahi, kesempurnaan kekal, sukacita yang tak berkesudahan dan kebahagiaan sempurna dari semua orang Kudus, melalui Kristus Tuhan kami.
Amin
Doa Sesudah Komuni yang terdapat dalam daftar Indulgensi

Dalam The Enchiridion of Indulgences (Buku ketentuan mengenai Indulgensi) yang dikeluarkan oleh Vatikan tanggal 29 Juni 1968 (silakan klik) menyatakan bahwa dengan merenungkan pengorbanan Yesus dan luka-luka-Nya di kayu salib sebagaimana dijabarkan dalam doa yang sederhana berikut ini, kita dapat memperoleh indulgensi. Demikianlah doanya yang mengambil dasar dari kitab Mazmur 22: 17-18:
Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, En ego, o bone et dulcissime Iesu.“Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa dan memohon kepada-Mu agar menanamkan di dalam hatiku, citarasa yang hidup akan iman, pengharapan dan kasih, pertobatan yang sungguh dari dosa-dosaku, dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya. Dan dengan kasih dan dukacita yang mendalam, aku merenungkan kelima luka-luka-Mu, yang terpampang di hadapanku, yang tentangnya Raja Daud, nabi-Mu, telah menubuatkan perkataan ini yang keluar dari mulut-Mu, ya Tuhan Yesus: “Mereka telah menusuk tangan-Ku dan kaki-Ku; mereka telah menghitung semua tulang-Ku….”
Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar