A. Yesus dan
Yahwe
Yesus tidak pernah menyatakan diriNya adalah Yahwe? Unitarian:
Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diriNya Yahwe.
Jawab
A.
Butuh Pengakuan Verbal: “Aku
adalah Allah”?
Kami beri ilustrasi: “Selama lawatannya ke luar negeri,
Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dan bahkan semua orang yang pernah
menjabat sebagai presiden, di bumi ini, tidak pernah berpidato, atau memberi
pernyataan tentang dirinya: “Aku Barack Obama, Presiden Amerika Serikat adalah
Manusia”. Kalau Barack Obama tidak pernah memberitahukan bahwa dirinya adalah
manusia, hal itu tidak dapat disimpulkan bahwa Barack Obama pasti bukan
manusia. Jadi, sesuatu yang tidak dikatakan secara verbal bukan berarti
bahwa sesuatu itu tidak ada. Kalau benar bahwa Yesus tidak pernah menyatakan
“Aku adalah Allah” tidak berarti bahwa Dia bukan Allah. Kecuali kalau Yesus
benar-benar pernah menyatakan: Aku bukan Allah. Berita menyedihkan bagi kaum
Unitarian bahwa Yesus tidak pernah menyangkal bahwa DiriNya adalah Allah.
Sebaliknya, Yesus dengan pelbagai cara menyatakan bahwa Dia adalah Allah/Yahwe
yang menjadi manusia.
B.
Yesus menyatakan diriNya
sebagai Putera Allah:
Dalam Perjanjian Baru dikatakan: “Kata mereka semua:
"Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?" Jawab Yesus: "Kamu
sendiri mengatakan bahwa Akulah Anak Allah[1]." Masihkah kamu berkata kepada Dia yang
dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat
Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?[2]
Dalam kitab Wahyu tertulis:
"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di
Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan
kaki-Nya bagaikan tembaga[3]
Pesan yang mau disampaikan oleh sebutan “Anak Allah”
adalah Yesus sehakikat dengan Bapa. Yesus adalah Allah yang tampak dalam
sejarah, di hadapan seluruh indera manusia. Anda tidak lagi beriman layaknya,
seorang yang membeli kucing dalam karung. Anda mengimani Allah yang pernah
hadir dalam sejarah manusiawi Anda. Seberapa pun hebatnya seseorang
mendeskripsikan seekor kucing yang hendak dijualnya, bahwa si penjual
benar-benar menjual seekor kucing, hal semacam itu tinggal tetap pada sebuah
deskripsi, yang harus dibuktikan secara empirik. Allahnya orang Kristen
bukanlah Allah angan-angan, atau Allah yang dipropagandakan oleh orang lain,
atau Allah yang dideskripsikan Akbar oleh seorang manusia. Allahnya orang
Kristen adalah Allah yang menyatakan DiriNya di hadapan ribuan saksi mata dalam
wujud rupa manusia. Allah yang menyejarah[4].
C.
Yesus menyatakan diriNya
sebagai Yahwe [Matius 4:1-11]
Yesus dicobai Iblis.
Menurut pengarang Matius, setelah berpuasa empat puluh
hari empat puluh malam, Yesus dicobai oleh Iblis,[5] atau Iblis mencobai Yesus. Penegasan ini
penting agar kita dapat memahami sejumlah pernyataan Yesus pada ayat-ayat
selanjutnya.
Cobaan pertama:
"Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah
supaya batu-batu ini menjadi roti." Jawaban Yesus: "Ada
tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang
keluar dari mulut Allah."[6].
Menarik bahwa pernyataan “Anak Allah
yang ke luar dari mulut Iblis, dijawab oleh Yesus: “Manusia hidup….”. Jadi,
Anak Allah itu adalah MANUSIA. Perintah Iblis supaya Anak Allah makan roti
tentu tidak masuk akal sebab pernyataan Anak Allah mau menegaskan bahwa Yesus
adalah Allah. Allah yang adalah Roh tidak mungkin makan roti. Siapakah yang
bisa makan roti? Hanya manusia. Sekalipun Yesus adalah manusia, Ia tidak melulu
hidup dari roti, tetapi setiap firman yang ke luar dari mulut Allah.
Siapakah Allah yang dimaksud oleh Yesus: DiriNya atau Yahwe?. Kalaulah “firman
yang ke luar dari mulut Allah” HANYA MELULU ditujukan kepada YAHWE, maka berita
dalam Perjanjian Baru, tepatnya keempat Injil tidak tepat sebab keempat Injil
nyaris seratus persen memuat pengajaran yang ke luar dari mulut Yesus.
Sementara orang-orang Kristen zaman ini justeru mengikuti setiap firman yang
keluar dari mulut Yesus. Bukan karena orang Kristen membangkang terhadap Yesus,
tetapi justeru karena Dialah yang memerintahkannya[7] Lagi pula, Bapa sendiri meminta para murid untuk
mendengarkan Yesus[8] Jadi, secara sangat halus Yesus menyampaikan
bahwa Dia adalah Allah. Orang Kristen mengikuti semua perkataan dari mulut
Allah, yang tidak lain adalah perkataan yang keluar dari mulut Yesus.
Renungkanlah itu!
Cobaan kedua:
"Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah
diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan
malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya
kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Jawaban Yesus: Janganlah engkau
mencobai Tuhan, Allahmu!" [9]
Pertanyaan kita: siapakah yang sedang dicobai oleh
Iblis, Yahwe atau Yesus? Jawabannya jelas: Yesus[10] yang juga diakui oleh penulis Ibrani[11]
Iblis mencobaik Yesus: “Jika
Engkau Anak Allah…” Jawaban Yesus sangat jelas: “Jangan engkau mencobai
Tuhan Allahmu”. Siapakah yang sedang dicobai? Bukan Yahwe tetapi Yesus.
Jika demikian, maka kesimpulannya Yesus menyatakan DiriNya adalah Allah. Dan
karena Allah yang menjadi manusia, maka Ia dicobai Iblis.
Cobaan ketiga:
"Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau
sujud menyembah aku." Jawaban Yesus: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada
tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti!".[12]
Iblis mencobai Yesus: "Semua itu
akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Ini
adalah cobaan yang paling besar dari Iblis karena berkaitan dengan penyembahan
yang hanya dikhususkan bagi Allah?Yahwe semata. Di sini pulalah, Yesus
menyampaikan pernyataanNya yang paling tegas, jelas dan lengkap tentang siapa
DiriNya: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, HANYA kepada DIA SAJA engkau
BERBHAKTI. Lihat dan renungkan!!! Hanya kepada Allah (YHWH) saja engkau
berbhakti (menyembah), tetapi YHWH sendiri justeru mengharuskan para
malaikat menyembah Yesus[13] Yesus tidak pernah menolak untuk disembah, juga
tidak pernah mengutuk orang yang menyembah Dia[14] sebagaimana Dia mengutuk Iblis yang minta
disembah.
Yesus menyatakan Diri Allah.
Uraian-uraian di atas lebih dari
cukup untuk membuktikan bahwa Yesus menyatakan DiriNya adalah Allah, Allah yang
menjadi manusia. Namun, banyak orang menuntut teks yang secara eksplisit
menegaskan bahwa Yesus menyatakan diriNya adalah Allah: “Aku [Yesus]
adalah Allah”. Baiklah kita berkhikmat. Kata “Yahwe” adalah sebuah Nama. Benar
bahwa nama itu menyatakan jati diri. Tuntutan bahwa Yesus menyatakan diriNya
Yahwe, telah dijawab oleh Yesus sendiri justru melebihi tuntutan tersebut.
Kita semua tahu bahwa kata Allah
adalah terjemahan Arab kata Ibrani Elohim. Sedangkan kata TUHAN adalah
terjemahan Indonesia (Melayu) kata Ibrani YAHWE. Jika ada orang yang lebih
“mengagungkan” kata Allah daripada kata Tuhan, maka hal itu tidak lebih
dari persoalan rasa budaya bahasa suatu bangsa. Alkitab tidak mendeskripsikan
bahwa kata Allah lebih tepat untuk Sang Ada daripada kata Tuhan. Apalagi kalau
hanya karena analisis etimologis bahwa di balik kata “Tuhan” terselip juga arti
“tuan”. Kalau itu masalahnya, maka dibalik kata “Allah” pun bercokol arti “dewa
pagan Arab pra Islam”.
Sang Ada, Pencipta Langit dan Bumi
tidak pernah menyatakan bahwa “NamaKu adalah Allah/Elohim”. Kata “Elohim, atau
Allah (Arab)” itu justeru dipakai oleh orang Israel/penulis Alkitab PL untuk
YHWH/Sang Ada. Inilah hal yang tidak terbayangkan oleh orang-orang yang
mengagungkan dan menggunakan kata “Allah” satu-satunya untuk “Sang Ada”. Sang
Ada-nya Israel malah tidak pernah merekomendasikan kata Allah (Arab) itu.
Siapakah yang dapat membuktikan bahwa saat kali pertama orang Arab pra-Islam
menggunakan kata “Allah” adalah untuk Yahwe TUHAN Israel?!!!
Kepada Musa-lah, Sang Ada itu
menyatakan siapakah Dia. Dia adalah “AKU ADALAH AKU; AKULAH AKU, sama dengan
AKU ADA” Makna dari kata itu ialah AMBIL BAGIAN, IKUT SERTA dan TERLIBAT
AKTIF. Nah, DIA yang terlibat aktif itulah yang kemudian disebut YAHWE/TUHAN.[15] Kalaupun kata “YAHWE” itu telah dikenal oleh
orang Israel sebelumnya, tetapi sekurang-kurangnya kata itu mendapat penegasan
dan restu langsung dari Sang Ada.
Perhatikan teks Yesaya berikut ini:
“Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku.[16] Sang Ada tidak pernah mengatakan bahwa “Aku
adalah “Allah (dalam pengertian Arab pra-Islam)”. Berkaitan erat dengan
pernyataan dalam teks Yesaya itu, maka Yesus dengan tegas menyatakan: “Aku yang
adalah TUHAN dan GURUMU[17]
Pertanyaan kita bukan hanya apakah
Yesus pernah menyatakan diriNya, Allah/Elohim, atau Yahwe TETAPI apakah
Yesus pernah menyatakan diriNya AKU ADALAH AKU, AKULAH AKU, AKU ADA; kata-kata
yang dikemukakan oleh Sang Ada Sendiri? Ya.!!! Yesus tidak pernah ragu
menyatakan dirinya: AKU ADALAH AKU, AKULAH AKU, AKU ADA[18]”
Perhatikan antara lain, teks-teks berikut ini:
Kitab Pertama Tawarik:
“Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam
kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk
selama-lamanya." [19]
Injil Lukas
Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama
seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku, bahwa kamu akan makan dan minum semeja
dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhta untuk
menghakimi kedua belas suku Israel[20].
Injil Yohanes
Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini;
jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku
jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari
sini[21]."
Bagaimana ketiga teks tersebut justru menunjuk kepada
ke-Allah-an Yesus?
Dengan membaca teks Tawarik, kita menyimpulkan bahwa
Allah memiliki kerajaan, kerajaan-Ku sama dengan Kerajaan Allah.
Dengan membaca teks Lukas, kita
mendapat kesan bahwa Bapalah yang menentukan hak kerajaan bagi Yesus. Kesan
seperti itu dapat dimengerti. Yang perlu diperhatikan adalah nama gelar
kerajaan itu menyatakan nama, gelar pemiliknya. “Sama seperti Bapa-Ku
menentukannya bagi-Ku”. Artinya, kerajaan yang ditentukan
bagi Yesus itu adalah kerajaan Allah. Pemiliknya adalah Dia yang disebut
Allah/Yahwe. Kerajaan Yahwe/Allah itu disebut oleh Yesus sebagai
“Kerajaan-Ku”!!! “Kamu makan dan minum semeja dengan Aku di dalam
KerajaanKu”. Nah, “Kerajaan Allah” = Kerajaan-Ku [Yesus]. Jadi, Yesus
adalah Allah.
Dalam Injil Matius dikatakan: “Tetapi
carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan
ditambahkan kepadamu[22]. Kata “Kebenaran” mengingatkan kita pada
pernyataan Yesus dalam bagian Injil Yohanes: “Akulah jalan kebenaran dan hidup[23]” Jadi, Yesus menegaskan bahwa DiriNya adalah
Allah.
Nah, “Kerajaan Allah” adalah KerajaanKu [Yesus], atau
KerajaanKu adalah Kerajaan Allah. Jadi, Yesus adalah Allah.
D.
Akulah Dia Yahwe
Jawab Yesus: "Akulah Dia,
dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan
datang di tengah-tengah awan-awan di langit." [24]
Perkataan Yesus ini, Ia ambil dari Daniel 7:13.
Daniel mengidentifikasi bahwa dia yang datang di tengah awan-awan di langit itu
ialah seorang seperti anak manusia. Siapakah namanya? Pertanyaan ini dijawab
secara sempurna oleh Pemazmur.
“Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah NamaNya,
buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! NamaNya ialah
YAHWE (TUHAN); beria-rialah dihadapanNya[25].”
Menarik bahwa nama dari Dia yang
melintasi awan-awan itu bukan Elohim (Allah), tetapi YAHWE, TUHAN. Mengingat
semuanya ini, kita dapat mengerti mengapa Yesus tidak pernah secara hurufiah
menyatakan diriNya: “Aku adalah Allah”, tetapi “Aku adalah YAHWE, TUHAN”,
tepatnya “Aku yang adalah Tuhan”.[26] Yesus tidak mau kita terpeleset dengan kata
Elohim, yang kerap dipakai juga untuk allah karikatur[27]
Maka Yesus berkata pula kepada
orang banyak, kata-Nya: "AKULAH TERANG dunia; barangsiapa mengikut
Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang
hidup[28]." Perkataan Yesus ini diambil
dari kitab Mazmur “YAHWE (TUHAN) ADALAH TERANG. “ [29]
Jadi, ini menegaskan bahwa pada dasarnya, klaim Yesus
merupakan penyataan DiriNya: siapakah Dia? Dia adalah YAHWE (TUHAN).
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik
memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; … Akulah gembala yang baik dan Aku
mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku[30]”.
Perkataan Yesus ini menyingkap keyakinan Yakub[31] dan Daud[32] bahwa TUHAN adalah Gembala. Jika Yesus
tahu bahwa YAHWELAH GEMBALA, tetapi Dia tegas menyatakan bahwa “AKULAH
GEMBALA”, bahkan GEMBALA YANG BAIK”, hal itu mengandaikan bahwa DIA adalah
TUHAN yang sama dengan YAHWE.
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan
katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan…bahwa Akulah Dia[33]”.
Marilah kita berhikmat, sebab
“haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, ALLAHMU, MENGAJARI
engkau seperti seseorang mengajari anaknya.[34]
Yesus secara gamblang menyetujui
sebutan para murid atas diriNya: Guru dan Tuhan. Jika Yesus bukan YAHWE,
tentulah Ia menghindari sebutan tersebut agar para muridNya tidak
mengingkari fakta bahwa YAHWE tidak lagi memerlukan seorang guru untuk
mengajar[35] Oleh karena Yesus menyetujui gelar (Guru)
yang diberikan para muridNya, maka itu berarti Ia mengakui DiriNya sebagai
YAHWE, sebab hanya Yahwe yang mengajar dan tidak memelurkan guru yang
lainnya.
Selanjutnya,
“Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua
jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan
bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.[36]”
Pernyataan Yesus ini itu mengesankan. Bandingkan
pernyataan Yahwe dalam kitab Yeremia berikut ini:
“Aku, TUHAN yang menyelidiki hati, yang menguji
batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah
dan langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya[37]”.
Pernyataan ini tidak cukup dimengerti
hanya karena Yesus telah diberi kuasa oleh BapaNya[38] sebab Bapa tetap berkuasa sampai sekarang. Hal
itu hanya mungkin dipahami bahwa terdapat kesetaraan antara Bapa dan Yesus.[39] Masih begitu banyak teks lain yang membuktikan
bahwa Yesus menyatakan diriNya YAHWE TUHAN.
Injil
Yohanes mencatat perkataan Yesus “Aku dan Bapa adalah satu."[40] Banyak diskusi atau debat, persisnya
penyangkalan dari kelompok anti ke-Allah-an Yesus. Menurut kaum Unitarian:
“Aku dan Bapa adalah satu” artinya Yesus bersatu dengan
Bapa dan bukan sama dengan Bapa. “Ber-satu”, satu pekerjaan[41] satu visi, satu spirit, satu hati satu pikir
bukan satu hakikat! Bersatu dengan Yesus bukan menjadi Yesus, bersatu dengan
Allah, bukan menjadi Allah sejati”!
Jawab
Reaksi orang-orang zaman ini memang lain. Pertama-tama
mereka menolak ke-Allah-an Yesus karena isi keyakinan mereka adalah Yesus
tidak pernah mengakui DiriNya sebagai Allah. Sebaliknya, orang-orang Yahudi
menolak ke-Allah-an Yesus karena Yesus mengaku DiriNya adalah Allah.
Sama-sama menolak ke-Allah-an Yesus, tetapi alasannya saja yang berbeda.
Renungkan dan perhatikan reaksi orang-orang Yahudi terhadap pernyataan
Yesus:
"Bukan
karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena
Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia
saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah[42]"
Orang-orang Yahudi paham dan sangat mengerti bahwa Yesus
sedang mengakui DiriNya adalah Allah. Jika tidak demikian, mustahil mereka mau
melempari Yesus dengan batu. Ketika jiwa sedang diancam secara demikian,
padahal Yesus tidak bermaksud mengakui DiriNya sebagai Allah, maka sangat masuk
akal kalau Yesus meluruskan pernyataanNya. Nyatanya, hal itu tidak Yesus lakukan.
Tidak ada satu pun ayat dimana Yesus memperbaiki pernyataanNya. Yesus juga
TIDAK PERNAH menyatakan “AKU BUKAN ALLAH” hanya orang yang anti Yesus saja yang
pernah menyatakannya. Kesimpulannya: Yesus benar-benar bermaksud menyamakan
DiriNya dengan Allah.
“Sesungguhnya
sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Perkataan “Aku telah Ada”, itu
sama artinya: “AKU ADALAH AKU ADA (=YHWH)[43]”
Perkataan
Yesus ini membuat orang Yahudi geram. Perhatikan laporan Alkitab mengenai
rekasi orang Yahudi:
“Lalu
mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan
meninggalkan Bait Allah[44].”
Mengapa orang Yahudi sedemikian nekat? Bagi mereka,
perkataan Yesus itu berarti menghujat Allah. Siapa saja yang menghujat Allah,
maka hukumannya tidak tanggung-tanggung: dirajam sampai mati. Pengakuan para
musuh Yesus ini menambah bobot kebenaran perkara ini. Artinya Yesus benar-benar
menyatakan DiriNya sebagaimana dipahami oleh orang Yahudi: Yesus menyamakan
diriNya dengan Yahwe. Sayangnya orang Yahudi tidak dapat menerima dan percaya
atas perkataan Yesus itu, sama seperti sebahagiaan dari orang-orang zaman
sekarang.
F.
Lihat juga Teks-teks Berikut
ini:
Dalam kitab Wahyu, malaikat menginstruksikan Rasul Yohanes
untuk hanya menyembah kepada Allah[45] Tetapi beberapa kali dalam Alkitab Yesus
menerima penyembahan[46] Dia tidak pernah menegur orang-orang yang
menyembah Dia. Kalau Yesus bukan Allah, Dia pasti melarang orang-orang
menyembahNya, sama seperti malaikat dilarang disembah oleh Yohanes[47] Yesus juga pasti tahu betul larangan menyembah
selain Allah dalam Keluaran 20:4-5 dan Ulangan 5:7-9
Di satu pihak, semua manusia di bumi rusak,
pembohong, berdosa[48] Di pihak lain, hanya Allah yang dapat mengampuni
dosa[49] Sementara, orang berdosa tidak dapat melihat
Allah kecuali mereka yang suci hatinya.[50] Jadi, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya
sendiri. Kita sadar bahwa hanya Allah saja yang memungkinkan kita dapat
menghampiri tahtaNya. Oleh kehendak dan cintaNya kepada kita, maka Dia datang
ke dunia. Sesuatu yang tidak masuk di akal pikiran manusia daging. Dia
yang Mahabijaksana datang dan mengambil rupa manusia, bahkan rupa hamba. Sebab
kita ini adalah manusia dan hamba. Dengannya kita mengerti, Dia yang tak
terjangkau, Dia yang ajaib, Dia yang mahadasyat kini hadir menyertai kita dan
sedang mengantar kita menuju rumahNya. Karena kini Dia telah menjadi manusia,
maka untuk menebus dosa kita, Ia memakai cara-cara manusiawi kita. Sekali lagi,
maksudnya ialah supaya kita mengerti, supaya kita tahu, supaya kita merasakan
dan supaya kita mengalami Allah yang kita imani. Kita dapat mengalamiNya dengan
seluruh kemanusiaan kita. Kalaulah dia yang menebus dosa kita hanyalah manusia
seperti kita, maka hal itu tidak mungkin sebab manusia pada dasarnya kita
manusia tidak dapat menolong dan menebus dosanya sendiri.[51] Hanya Allah yang sanggup menanggung dosa seisi
dunia ini.[52] Karena dosa yang begitu besar dan berat, Allah
yang menjadi manusia itu mati untuk dosa kita.[53] Perhatikan perkataan dalam Ibrani berikut ini:
Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah
dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam
keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang
berkuasa atas maut[54]
Pernyataan ini menegaskan sesuatu hal yang berbeda bahwa
Yesus tidak sama dengan manusia. Karena tidak sama dengan manusia, maka Ia
(Yesus) MENJADI (pergerakan/perubahan ke bentuk yang lain) sama dengan manusia
(darah dan daging). Perubahan dari tidak sama menjadi sama, paling sedikit
mengambil bagian dalam kemanusiaan kita.
“Dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan
mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada
maut[55].”.
Apakah untuk menyelamatkan manusia, Allah harus menjadi
manusia terlebih dahulu? Jawabannya: YA. Itu cara yang paling baik. Itu adalah
rancangan Allah dan bukan rancangan manusia.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan
jalanmu bukanlah jalan-Ku,…Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah
tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu…firman-Ku
yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa
yang Kusuruhkan kepadanya[56].
Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada
kehendak Allah. Renungkanlah ayat berikut ini:
“Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus
disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh
belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh
bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan,
maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai[57].”
Jika ada seorang anak kecil yang tiba-tiba jatuh ke dalam
sumur berlumpur yang dalam, maka anak kecil itu pasti tidk mampu menolongnya.
Kata-kata anda pun tidak lagi bermanfaat baginya. Cara satu-satunya yang
paling efektif ialah diri anda sendiri. Anda harus menceburkan diri ke dalam
sumur itu sebab dia tidak dapat memegang kata-kata anda, tetapi dia butuh
tangan anda. Bahkan manakala anak itu tidak lagi dapat memegang apa pun, maka
anda yang harus memegang tangannya dan menarik dia dari sana. Anda harus turun
ke dalam lumpur itu. Anda dapat mengangkat dan menggendongnya serta
membawanya ke tempat yang aman. Kita ini lebih kecil dari seorang anak kecil, sering
jatuh dan jatuh lagi ke dalam lumpur yang kotor, kerapuhan karena dosa. Tuhan
tahu bagaimana caranya menyelamatkan kita. Dia tidak mau menggunakan cara
kunfayakun, bimsalabim, (seperti kebiasaan tukang sulap), atau apa pun namanya.
Bahkan Dia tidak mempercayakan firmanNya kepada apa yang tidak kekal. Dia
menyampaikan firmanNya kepada kita dengan menjadi sama dengan kita. Dan itu
adalah cara yang paling tepat sesuai dengan kemanusiaan kita. “Untuk
selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.[58] Tetapi Firman yang tetap teguh di sorga itu “telah
menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat
kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal
Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.[59]
Jadi, seluruh uraian di atas memastikan bahwa Yesus
menyatakan diriNya adalah Allah (yang menjadi manusia) dan karena Dia, anda dan
saya memiliki pengharapan akan keselamatan dan hidup yang kekal.
G.
Yesus adalah Allah buatan
Konsili Gereja Katolik
Orang-orang modern kerap juga
beranggapan bahwa Ke-Allah-an Yesus adalah buatan Konsili Nicea tahun325 atas
perintah Kaisar Konstantin.
Jawab
Anggapan itu tidak dapat dibenarkan
karena fakta sejarah menyangkalnya, antara lain:
1) Ini mustahil. Manusia tidak mungkin bisa mengubah manusia
menjadi Tuhan/Allah
2) Tuhan bisa membuat diriNya menjadi manusia sebab Tuhan Mahakuasa
3) Ajaran dan iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal yang
berpusat pada Kristus bukan pada konsili Nicea dan perintah kaisar Konstantine
4) Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Peristiwa itu disebut
inkarnasi.
5) Inkarnasi adalah tindakan ajaib Tuhan dan teragung dan terbesar
karena didorong oleh cintaNya yang luar biasa kepada manusia.
6) Inkarnasi adalah bukti kuat bahwa Allah Mahakuasa dan
mahasempurna dalam tindakanNya. Jika kita percaya bahwa Allah mahakuasa dan
mahasempurna, maka Dia mahakuasa MAMPU menjadi manusia.
7) Inkarnasi adalah peristiwa Allah memasuki sejarah umat manusia.
Kenyataan ini tidak ditemukan dalam ajaran agama non Alkitab.
8) Ketetapan konsili Nicea bukanlah upaya mengangkat atau membuat
Yesus menjadi Tuhan dan Allah, tetapi menegaskan kembali apa yang telah ditulis
dalam Alkitab. Dengan itu Gereja mendefinisikan dirinya berbeda dari agama
lainnya.
Jadi, Ke-Allah-an Yesus adalah
Allah yang menjadi manusia [inkarnasi]
H.
Bapa-bapa Gereja sebelum konsili
Nicea tahun 325 itu telah mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah.
1)
St. Ignatius dari Anthiokia (110
AD).
“…. ditakdirkan dari sepanjang abad
untuk sebuah kemuliaan yang tidak berkesudahan dan tak berubah, disatukan dan
dipilih melalui penderitaan yang nyata oleh kehendak Bapa di dalam Kristus
Yesus, Tuhan kita”[60] “Karena Tuhan kita, Yesus Kristus,
dikandung oleh Maria, sesuai dengan rencana Tuhan: dari keturunan Daud, memang
benar, namun juga dari Roh Kudus.[61] “kepada Gereja yang dikasihi dan diterangi oleh
kasih dari Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak-Nya.[62] “Allah sendiri dimanifestasikan dalam
bentuk manusia[63]
2)
St. Irenaeus (140 AD).
“….dan kebangkitan kembali semua
badan dari seluruh umat manusia, sehingga kepada Yesus Kristus, Tuhan dan
Allah dan Penyelamat dan Raja…”[64] Engkau akan mengikuti satu-satunya guru
yang benar dan dapat diandalkan, Sabda Allah, Yesus Kristus, Tuhan kita,
dimana, karena kasih-Nya yang begitu besar, menjadi seperti kita [manusia],
sehingga Dia dapat membawa kita kepada sebagaimana adanya Dia.”[65]
3)
St. Clement (150 AD)
“Sudah sepantasnya engkau berpikir
bahwa Kristus adalah Allah”[66]
4)
St Yustinus Martir (160 AD)
“Bapa alam semesta memiliki seorang
Putera. Dan Dia juga Allah”. [67]
5)
Tertullianus (210 AD).
“…Asal dari dua hakekatnya [Yesus] menunjukkan bahwa Dia
[Yesus] sebagai manusia dan Tuhan.[68], “Kristus adalah Allah kita”[69]
6)
Origenes (225 AD).
“Walaupun Dia [Jesus] adalah Tuhan, Dia telah
mengambil tubuh; dan menjadi manusia, Dia [Jesus] tetap sebagai Tuhan.”[70] “Tak seorang pun perlu merasa terhina
karena Juruselamat juga adalah Allah”[71]
7)
Novatius (235 AD)
“Dia bukan sekadar manusia, tetapi
juga Allah”[72]
8)
Cyprianus dari Kartago (253 AD)
“Barang siapa
menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait-Nya [bait
Roh Kudus]”.[73]
“Yesus Kristus, Tuhan dan Allah
kita”[74]
9)
Lactantius (304).
“Kita percaya Dia [Yesus] adalah
Allah”[75]
10) Arnobius dari Sicca (305 AD).
“… beberapa orang geram, marah, dan bergejolak, dan
berkata “Apakah Kristus adalah Tuhanmu?” “Memang Dia adalah Tuhan,” kita
harus menjawab, “dan Tuhan di dalam kekuatan yang tersembunyi.”[76]
I.
Konsili Nicea HANYA merumuskan
iman Alkitabiah dan Bapa-bapa Gereja awal sebagai berikut:
“We believe in one Lord, Jesus
Christ, the only-begotten Son of God, God from God, light from light, true
God from true God, begotten, not made, one in being with the Father.
Through him all things were made” (Creed of Nicaea)
“Kami percaya akan satu Allah, Yesus
Kristus, Putera Allah yang Tunggal, Alllah dari Allah, Terang dari
Terang, Allah Benar dari Allah Benar, dilahirkan bukan dijadikan,
sehakekat dengan Bapa, Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.“
Jadi, jelaslah bawa Yesus tidak
dijadikan Tuhan oleh konsili Nikea pada tahun 325, namun Yesus sendiri adalah
Tuhan, dan Alkitab, Para Rasul serta Gereja perdana memberi kesaksian tentang
hal itu.
J. Yesus bukan
TUHAN ALLAH?
Pada point pertama di atas sudah disinggung bahwa Yesus adalah Allah yang
menjadi manusia. Pada suatu kesempatan di awal saya memulai menjalankan tugas
imamatku, aku dihadapkan dengan sejumlah buku yang menentang ke-Allah-an Yesus.
Buku-buku tersebut kubaca dengan pikiran terbuka dan
membiarkan isinya mengaduk-aduk pikiranku. Aku teringat bahwa di seminari dulu
topik ini tidak sungguh kudalami selain karena saya percaya bahwa Yesus adalah
Allah, juga saya tidak menemukan buku-buku yang secara intens menolak
ke-Allah-an Yesus. Kini saya dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan seputar
ke-Allah-an Yesus. Saya percaya bahwa persoalan ini akan terpecahkan.
Saya mulai merenung:
· Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa
matahari?. Dia adalah cahaya yang tak terhampiri, dan pasti melebihi matahari
ciptaanNya. Seorang manusia hina seperti saya, akan meleleh karenanNya. Adalah
Allah yang Mahabijaksana tidak mendatangiku dalam rupa matahari.
· Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa
hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati?. Saya tidak akan mampu
menerimanNya sebab saya tidak bisa berkomunikasi dengan hewan, tumbuh-tumbuhan
dan benda-benda mati. Allah yang Mahabijaksana tidak mendatangiku dalam rupa
salah satu pun dari semuanya.
· Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa
surat? Saya tidak akan dapat merasakan bagaimana sesuangguhnya Dia berkorban
dan mengambil bagian dalam perjalanan hidup saya. Kebutuhan saya yang paling
hakiki adalah bertemu dengan Dia, bukan dengan surat-suratnya. Sebuah surat
seberapa pun hebat dan puitisnya dapat saja menipu diriku. Jangan-jangan surat
itu berasal dari Iblis yang menyamar seperti malaikat. Allah yang Mahabijaksana
tidak mendatangiku dalam rupa surat.
· Apa yang akan terjadi kalau Allah menampakkan diri kepadaku dalam rupa
seorang manusia? Aku dapat berkomunikasi denganNya, Dia dapat memperagakan
belaskasihanNya kepadaku dan aku dapat mencintaiNya. Seluruh kemanusiaanku
dapat bertemu denganNya. Allah yang Mahabijaksana telah mendatangiku dalam rupa
manusia. Bukankah Allah dapat bertindak cukup dengan bersabda saja? Tuhan dapat
melakukan hal itu tetapi Dia tidak memilih cara tersebut. Cara “cukup dengan
bersabda saja” adalah pikiran manusia, tetapi bukan kehendak Allah.
Begitulah awal pergulataan saya. Saya percaya bahwa Allah telah menjadi
manusia, satu-satunya cara yang paling tepat sesuai dengan kondisi kemanusiaan
saya. Allah mampu melakukan hal itu.
Refleksi lanjutan dari pergulatan tersebut memampukan saya untuk menjawab
secara memuaskan sejumlah alasan penolakan manusia modern terhadap Ke-Allah-an
Yesus.
a) Frans Donald menulis:
“Kata “Tuhan”
yang sering muncul dalam Alkitab diterjemahkan dari kata Adonay (Ibrani), atau
Kurios (Yunani), atau Lord (Inggris). Kata Tuhan dalam bahasa Indonesia berasal
dari kata Tuan yang diperhalus dengan tambahan huruf “h” di antara “tu” dan
“an” menjadi Tuhan. Dari akar katanya tidak ada perubahan atau perbedaan makna
antara Tuhan dan Tuan yang sama-sama berarti yang dihormati, atau
pimpinan. “Allah (kata Arab),” searti dengan “sesembahan” atau
“yang patut disembah”, yang searti dengan kata Dewa (Indonesia), God (Inggris),
Elohim (Ibrani), Theos (Yunani). Ringkasnya: Tuhan = yang dihormati, atau pimpinan,
sedangkan Allah= sesembahan, atau yang patut disembah. Berdasarkan pembedaan
tersebut, maka Allah memiliki makna arti yang berbeda dengan Tuhan, dan Allah
pasti Tuhan, tapi Tuhan belum tentu Allah”.[1]
Jawab
Pemakaian
Kata/Istilah
Jika kita merunut ke suatu istilah kata, maka kata
Allah, tidak tepat untuk menunjuk kepada SANG ADA. Kata Allah tidak sama atau
searti dengan “sesembahan” atau “yang patut disembah”. Kata Allah berasal dari
kata “al Ilah” yang berarti dewa tertinggi. “Tertinggi” dari apa?
Tertinggi dari para dewa lainnya. Jadi, al Ilah tetaplah dewa.
Dewa tersebut dapat saja disebut sebagai sesembahan, hal tersebut tidak sulit
dimengerti mengingat ada orang yang menyembahnya. Siapakah yang berani bertaruh
bahwa dewa adalah sosok yang patut disembah dalam pengertian SANG ADA? Kecuali
bahwa awalnya, al- Ilah itu adalah sesembahan para pagan Arab pra Islam, yang
kemudian maknanya diperluas menjadi “PENCIPTA SATU-SATUNYA”. Jika demikian,
maka pada dasarnya tidak dapat dikaitkan dengan SESEMBAHAN Ibrani yang memang
tidak mengenal sebutan “Allah” itu sbagai TUHAN SATU-SATUNYA. Bahwa dikemudian
hari Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, sah-sah saja. Hal yang sama
berlaku untuk kata “Adonay” yang pada awalnya dipakai untuk tuan (Tuhan),
tetapi kata itu kemudian mengalami perluasan makna. Yang terpenting bukanlah
“kata sebagai kata”, tetapi makna dibalik ungkapan kata itu.
b) Fakta Penting
Pengkritik di atas menyembunyikan satu fakta lain yang
amat penting. Orang Israel yakin bahwa Sesembahan mereka adalah YHWH,
yang dengannya SANG ADA mewahyukan Diri. Dalam buku-buku PL berbahasa Yunani
(LXX), nama YHWH yang tidak boleh diucapkan[2] itu diterjemahkan dengan kata Yunani KURIOS (TUHAN). Tuhan
menjadi nama yang paling lazim untuk HAKIKAT SESEMBAHAN Israel. PB memakai
gelar “Tuhan” untuk Bapa, tetapi pada waktu yang sama dikenakan untuk Yesus,
yang dengannya Yesus diakui sebagai YHWH yang menjadi manusia.
K. Apakah Allah itu?
Jika ada orang
menolak ke-Allah-an Yesus, seharusnya ia mulai dari definisi, atau deskripsi
tentang “apakah Allah itu”. Jika deskripsi itu sesuai dengan Yesus, maka dapat
dipastikan bahwa Yesus adalah Allah. Demikian juga sebaliknya. Jika deskripsi
itu tidak cocok dengan Yesus, maka dapat dipastikan bahwa Yesus bukan Allah.
Para ahli Alkitab, teolog, bahkan para filsuf telah bertanya dan merefleksikan,
mengkontemplasikan apakah benar bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia?
Pertanyaan itu terjawab: Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Jawaban
tersebut diperoleh karena fakta-fakta Alkitabiah, antara lain, bahwa
Allah adalah Pencipta[3], dan hal itu berlaku juga untuk Yesus. Bandingkan dengan
pengakuan berikut ini dalam Injil Yohanes:
“Segala sesuatu
dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala
yang telah dijadikan[4]. …Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan
oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya[5]… Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi
Anak Tunggal, Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.[6]
Jelas bahwa
Yesus adalah PENCIPTA SEGALA SESUATU dan TANPA DIA TIDAK ADA SUATUPUN YANG
TELAH JADI. Pernyataan itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Yesus
adalah Allah.
L. Karena Kuasa Allah?
Kaum Unitarian
menolak kesimpulan itu dengan merujuk pada Matius 28:18 bahwa Yesus dapat
melakukan semuanya itu karena diberi kuasa oleh Allah.
Jawab
Pertanyaannya, kapan Allah memberikan semuanya itu?
Pertanyaan tersebut hanya dapat dimengerti bahwa pertama-tama Allah menciptakan
Yesus, SETELAH ITU barulah Allah memberikan segala kuasaNya kepada Yesus untuk
menciptakan segala sesuatu yang lainnya. Jika demikian gugurlah pernyataan kaum
unitarian bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu sebab Allah hanya
menciptakan Yesus sedangkan yang lainnya diciptakan oleh Yesus. Lagi pula,
apakah setelah Allah memberikan segala kuasaNya kepada Yesus, maka Allah tidak
berkuasa lagi? Jika dijawab “ya” maka hal seperti itu tidak masuk akal. Kaum
Unitarian harus berani menolak keseluruhan Kitab Taurat Musa, khususnya
Kejadian, yang dengan terang benderang memberi laporan bahwa “Pada mulanya
Allah menciptakan langit dan bumi”[7] Penjelasan yang paling logis atas perbedaan antara Kejadian
1:1 dan Matius 28:18 adalah Allah dan Yesus SEHAKIKAT. “Aku dan Bapa adalah
satu”[8]
Penolakan yang dibuat oleh kelompok anti ke-Allah-an
Yesus berdasarkan analisis etimologis kata, tidak cukup kuat. Ambil
contoh kata: “ESA” atau “SATU”. ALLAH itu ESA, atau SATU. Apakah artinya? Jika
Allah dikatakan ESA atau SATU, maka secara etimologis, kata “SATU Allah “ tidak
berbeda dengan pengertian “SATU Kambing”. “Satu” mengungkapkan jumlah, yang
dengannya “satunya sesuatu itu” berada dalam ruang dan waktu. Dan itu berarti
sesuatu itu terbatas. Jadi, ungkapan Allah satu, atau satu Allah kurang tepat
untuk mengungkap realitas SANG ADA. Lainnya halnya kalau kita menggali makna di
balik ungkapan “Satu” Allah, atau Allah yang “Esa”.
M. Nama Yang Tak Boleh Diucap Sembarangan!!!
Selanjutnya, sekali lagi, kita tahu bahwa orang Israel mengenal Sesembahan
mereka dengan nama: YAHWE[9]. Nama ini tidak boleh disebut sembarangan[10] Untuk mencegah pemakaian nama YAHWE secara salah, maka
orang Yahudi menyebut YAHWE mereka dengan Adonay (Tuhan). Artinya apa? Tentu
orang Yahudi tidak bermaksud untuk mengganti arti dari nama YAHWE menjadi:
“YAHWE PASTI TUHAN (ADONAY), SEDANGKAN TUHAN (ADONAY) BELUM TENTU YAHWE”
[sebagaimana dimengerti oleh kaum Unitarian]. Sebaliknya, satu-satunya maksud
dibalik sebutan Adonay (Tuhan) adalah YAHWE [sebagaimana dimengerti oleh orang
Yahudi]. Mereka (Pengarang PL) yang menyebut, menulis/mengganti nama YAHWE
dengan Adonay lazim disebut sebagai kelompok Yahwista.
Selain kelompok YAHWISTA ada kelompok lain yakni ELOHISTA. Kelompok ini pun
berusaha keras memakai kata lain guna menghindari penyebutan nama YAHWE. Kata
yang kerap mereka pakai yakni Elohim. Pemakaian kata Elohim untuk YAHWE tidak
pernah dimaksudkan untuk mengganti arti nama YAHWE: “YAHWE PASTI ELOHIM
TETAPI ELOHIM BELUM TENTU YAHWE” [sebagaimana dipahami oleh kaum unitarian].
Maksud satu-satunya di balik ungkapan Elohim itu terarah kepada YAHWE semata.
Unitarian:
Para Rasul Yesus tidak pernah mengimani bahwa
Yesus adalah Yahwe, atau Allah.
Jawab
Kita perlu mengetahui bahwa Para Rasul tidak pernah mengatakan bahwa
YESUS BUKAN ALLAH. Sebaliknya, ada banyak teks yang justru menegaskan bahwa
Para Rasul mengimani Yesus adalah Yahwe. Ini tercermin dalam ungkapan “Anak
Allah” [11]. Apa arti ungkapan itu?
Kami memberikan ilustrasi singkat. Jika kita menyebut “anak kambing” untuk
menerangkan bahwa “anak” itu adalah seekor kambing, maka demkikian juga ketika
kita menyebut “anak manusia”, maka “anak” itu adalah seorang manusia, bukan
hewan, bukan tumbuhan atau benda. Demikian juga jika ungkapan “Anak
Manusia”[12] yang dikenakan pada Yesus membuktikan bahwa Yesus adalah
manusia, maka ungkapan “Anak Allah” yang dikenakan kepadaNya juga membuktikan
bahwa Dia adalah benar-benar Allah.
Unitarian:
“Jika demikian, maka semua orang adalah Allah juga sebab orang-orang Yahudi
dan Kristen pun disebut anak-anak Allah, Jemaat Allah”[13]
Jawab
Tentu saja tidak. Ungkapan “Anak Allah” merupakan bukti bahwa Yesus
adalah Allah karena ditopang oleh bukti-bukti lain yang akurat. Bukti
pendukung lain bahwa Yesus adalah Allah, misalnya ungkapan “Jemaat
Allah” yang dipakai oleh Paulus dan para Rasul. Ungkapan “Jemaat Allah”
menegaskan bahwa pemilik dari Jemaat itu adalah Allah. Di samping butki-bukti
tersebut, kita perlu mencermati keseluruhan pengajaran Alkitab tentang Yesus.
Mari kita lihat beberapa contoh pemakaian gelar “Anak Allah” yang
keluar dari mulut Para Rasul dalam sejumlah Teks PB:
N. Pengakuan Petrus dan Teman-temannya:
“Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya:
"Sesungguhnya Engkau Anak Allah."[14].
Jika Yesus bukan Tuhan sudah tentu Dia melarang murid-muridNya menyembah
Dia. Ingatlah perkataan Yesus sendiri:
“Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada
tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia
sajalah engkau berbakti!" [15].
“Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada tertulis: Engkau
harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"[16]
Dan ketika Ia [Yahwe] membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia
berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia [Yesus]." [17]
Dari teks-teks di atas tidak dapat tidak harus disimpulkan bahwa Rasul
Petrus dan teman-temannya mengakui bahwa Yesus adalah Allah, sehakikat dengan
Bapa-Nya.
1. Pengakuan dan pernyataan Petrus sendiri:
a) Yesus adalah Allah
“Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang
hidup!" [18] “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,
kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan
Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.[19]
b) Petrus: Allah memilih aku
"Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah
sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan
perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan
menjadi percaya.”[20] Perkataan Petrus ini makin menjadi jelas dan masuk akal
ketika dikonfirmasi ke panggilan Petrus sendiri untuk menjadi pemberita Injil. “Kemudian
naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan
merekapun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk
menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya
kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah:
Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes
saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti
anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas,
Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang
mengkhianati Dia. [21]
Jika demikian, siapakah Allah yang dimaksud oleh
Petrus dalam Kisah Para Rasul 15:7? Dia tidak lain adalah Yesus. Yesus itulah
yang memilih Petrus untuk memberitakan Injil.
Bandingkan dengan perkataan Yesus dalam sejumlah teks
berikut ini:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan
ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."[22]
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang
memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan
menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa
dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. [23]
“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah
ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya
dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.[24]
c) Petrus: Yesus adalah Allah yang mengenal hati manusia
“Dan Allah, yang mengenal hati manusia,
telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh
Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak
mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati
mereka oleh iman. [25]
Perkataan Petrus ini telah diucapkannya ketika Yesus
masih bersama mereka di Galilea.
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon,
anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena
Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu,
Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya:
"Gembalakanlah domba-domba-Ku.[26]
d) Petrus: Yesus adalah Allah yang mengaruniakan Roh
Kudus
Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami
dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati
Dia." [27]
Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah
menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh
Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita.[28]
Pernyataan Petrus itu menggaungkan kembali peristiwa
bagaimana Yesus telah menganugerahkan Roh Kudus kepada para muridNya. Allah
yang memberi para murid Roh Kudus. Konkritnya, Allah yang memberi Roh Kudus itu
adalah Yesus sendiri.
“Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai
sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku
mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan
berkata: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang,
dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya
tetap ada." [29]
Kami menantang Anda untuk mengemukakan satu saja ayat
Alkitab dimana YAHWE Perjanjian Lama memberikan Roh Kudus kepada para murid
Yesus! Tidak ada.!!!
Perhatikan!!! Jika Yesus bukan Allah, bagaimana
mungkin Dia dapat memberikan kuasa pengampunan dosa kepada manusia? Kaum
Unitarian akan menjawab: Yesus memiliki kuasa pengampunan dan kuasa
mendelegasikan pengampunan karena Allah telah memberikan segala kuasaNya kepada
Yesus. Dengan demikian mereka serentak menolak pernyataan Alkitab bahwa HANYA
ALLAH YANG BERKUASA MENGAMPUNI DOSA.[30] Kesulitan lainnya, dapatkah seorang manusia yang menerima
kuasa pengampunan itu mendelegasikannya lagi kepada orang lain? Itu mustahil!
Sesungguhnya hanya Allah saja yang berkuasa mengampuni dan hanya Dia pula yang
berhak mendelegasikan kuasa pengampunanNya kepada manusia.
e) Jemaat Allah
Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang
rajani, bangsa yang kudus, umat[Jemaat] kepunyaan Allah sendiri, supaya
kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil
kamu ke luar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.[31]
Ungkapan di atas merupakan refleksi seluruh identitas
orang Kristen sebagai umat milik Allah sendiri. Allah yang dimaksud tidak hanya
dialamatkan kepada Bapa, tetapi serentak kepada Yesus. Pada dasarnya,
orang-orang Kristen adalah Jemaat Kristus. Karena dan dalam Kristus itulah
orang Kristen mengenal Allah. Perhatikan perkataan Yesus berikut ini:
Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan
di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (GerejaKu) dan
alam maut tidak akan menguasainya.[32]
Setiap kali Para Rasul menyebut “Jemaat Allah”
serentak mereka mengakui bahwa Yahwe adalah Allah dan Yesus adalah Allah yang
menjadi manusia. Itulah yang dimaksud oleh Paulus “Karena itu jagalah dirimu
dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi
penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan
darah Anak-Nya sendiri.” [33]
f) Petrus: Keadilan Allah dan Juruselamat, Yesus Kristus
Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus,
kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan
Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.Kasih karunia dan damai sejahtera
melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.[34]
Ayat pertama menegaskan bahwa iman diperoleh karena
keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Jadi, Dia yang disebut
Allah dan Juruselamat itu tidak lain adalah Yesus Kristus.
Ayat edua meneguhkan kenyataan itu: Allah dan Yesus
adalah Tuhan kita. Barangkali pernyataan iman bahwa Yesus adalah Allah
menyakitkan hati banyak orang. Yesus tidak memaksa siapa pun untuk menerima Dia
sebagai Juruselamatnya[35]. Perkara pun selesai.
2. Pengakuan Natanael:
“Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak
Allah, Engkau Raja orang Israel!" [36]
3. Pengakuan Yohanes:
“Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat,
supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu
oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”.[37]
Lagi, pengakuan Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu
adalah Allah” Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia.” Ini dengan
jelas mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam wujud manusia.
4. Pengakuan Paulus
Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud
Allah kepadamu. Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena
kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan
jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri[38]”.
Pernyataan Paulus ini sangat jelas dan lebih dari
cukup untuk membuktikan bahwa ia sangat percaya bahwa Yesus adalah Allah.
Paulus tidak pernah diperintahkan oleh Yahwe untuk memberitakan seluruh
maksud-Nya, tetapi Yesuslah yang mengutus Paulus untuk memberitakan maksudNya.
Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab
orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada
bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan
menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena
nama-Ku." [39]
Jadi, ketika Paulus berkata: “memberitakan seluruh
maksud Allah”, itu berarti ia menyatakan Yesus adalah Allah, atau menyamakan
Yesus dengan Allah.
Tidak heran kalau Paulus menasihati kita dengan
berkata:
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama,
menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang
walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan
diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya
dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah
sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada
di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus
Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa![40]
Frasa-frasa yang terkandung dalam pernyataan Paulus
ini menegaskan pula tentang ke-Allah-an Yesus. Jika benar bahwa frasa “rupa
seorang hamba” menegaskan bahwa Yesus adalah manusia yang menjadi hamba, maka
farsa “dalam rupa Allah” pastilah menegaskan bahwa Yesus adalah Allah.
“Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita[41]. “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah
hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan
diri-Nya untuk aku”[42] “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus[43]
Mengingat Alkitab tidak menyertakan tanda baca (titik
atau koma, dll), maka dapat saja Roma 1:4 menjadi: “: “Ia adalah Anak, Allah
yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”
Lihat juga pernyataan Paulus berikut ini:
Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik
orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.[44]
Di sini Paulus membedakan antara orang Yahudi,
kemudian orang Yunani dan Jemaat Allah [ yang tentu saja maksudnya adalah
murid-murid Kristus/Gereja].
Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu
dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha
membinasakannya[46].
Keterangan “TELAH MENGANIAYA JEMAAT ALLAH”
adalah refleksi atas tindakan Paulus setelah ia ditegur oleh Yesus. “MENGAPA
ENGKAU MENGANIAYA AKU”? Paulus menganiaya murid-murid Yesus dan ternyata Yesus
mengidentifikasi diriNya dengan para pengikutNya. Maka perkataan “Jemaat Allah”
itu adalah Jemaat Yesus/Pengikut Yesus. Dengan demikian Paulus menyatakan dan
mengimani bahwa Yesus adalah ALLAH
Dalam terang itulah kita dapat memahami ungkapan
“Jemaat Allah” dalam I Korintus 1:2 11:16.22, II Korintus
1:1, I Tesalonika 2:14, II Tesalonika 1:4 I Timotius
3:5
Paulus menyemangati kita guna menantikan kedatangan
Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
“ Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan
dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan
beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan
kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan
Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita
untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi
diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. “[47]
Dalam Ibrani 1:8, Bapa berbicara mengenai Yesus, “Tetapi tentang Anak Ia
berkata: `Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan
tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.”
Tahta seorang manusia fana tidak mungkin akan tetap untuk seterusnya dan
selamanya. Juga tongkat kerajaan seorang manusia tidak bebas dari intrik
kekuasaan manusia yang bersalah, atau tidak benar.
5. Pernyataan Pengarang Matius dalam Matius 3:3,
"Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata:
'Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan
untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”
Pernyataan di atas diambil dari, Yesaya 40:3,
"Ada suara yang berseru-seru: 'Persiapkanlah di padang gurun jalan
untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah
kita!'"
Jika kata “TUHAN” dalam Yesaya bermaksud TUAN, makan hal yang sama berlaku
untuk Matius 3:3. Sebaliknya, jika kata TUHAN dalam Yesaya menunjuk kepada
Allah, maka hal yang sama berlaku untuk Matius 3:3.
Jika ada yang memahami kedua teks tersebut secara lain itu berarti
bertentangan, tidak hanya dengan Yesaya tetapi juga dengan Matius. Kata “Tuhan”
yang dipakai oleh Yesaya, diambil alih oleh Matius, sementara itu “Tuhan” yang
dimaksud oleh Yesaya adalah Allah, bukan Tuan. Jika demkian, maka
kesimpulan yang paling logis ialah bahwa Matius menyetujui maksud Yesaya. Jadi,
kata “Tuhan” yang dimaksud oleh Matius adalah pasti Allah sesuai dengan maksud
Yesaya.
“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan” itu sama dengan persiapkanlah jalan untuk
Allah. Karena Matius 3:3, menunjuk kepada Yesus, maka sekali lagi Matius
menegaskan bahwa Yesus adalah YAHWE, TUHAN ALLAH. Lagi pula, kalau Yesus bukan
Allah tetapi tuan, maka amat tidak masuk akal pernyataan: “persiapkanlah…dan
luruskanlah jalan baginya”. Untuk apa mempersiapkan jalan bagi seorang tuan.
Karena tak ada seorang pun manusia yang tidak jatuh dalam dosa, maka tidak masuk
akal bahwa orang Israel harus bertobat terlebih dahulu dari dosa mereka, baru
kemudian mereka dapat menerima kehadiran seorang manusia, yang justeru seorang
pendosa juga. Hal seperti itu mustahil. Sama musthilnya dengan pendapat
yang mengatakan bahwa Yesus bukan Allah.
6. Pengakuan dan pernyataan dari Thomas.
engenai Yesus, Thomas, sang murid berseru, "Ya Tuhanku dan Allahku![48]" Yesus tidak pernah memperbaiki keyakinan
muridNya yang satu ini. Kami menantang siapa saja yang menyebut dirinya
mengenal Alkitab HARUS berkata seperti yang dikatakan oleh Thomas dihadirat
Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku”.
Jadi, berdasarkan teks-teks tersebut, maka dengan mantap kita
katakan: PARA RASUL MENYEBUT DAN MENGIMANI BAHWA YESUS ADALAH YAHWE YANG
MENJADI MANUSIA
Hal- hal yang dapat menjauhkan dan
manghalangi diri dalam mengikuti Roh Kudus?
1. Kebiasaan
hidup yang cenderung : nyontek, free sex, menipu, egois, jarang mengikuti
kegiatan rohani, rasa takut, rasa marah, berbohong, bersaksi dusta
2. Tidak
mematuhi perintah-perintah Allah akan menghalangi kita dari menerima Roh kudus
3. Pertama, bisa kita katakan bahwa hal
itu karena mereka belum menyangkal diri
4. karena mereka tidak bisa menyangkali
keinginan kedagingan mereka.
5. Tidak menginginkan kehadiran Roh
Kudus, hingga harus berhenti hidup dipenuhi Roh Kudus.
6. Kalau kita
tidak mengikuti Dia dan memilih untuk hidup dengan kekuatan sendiri, roh dan
tubuh sendiri
Hal- hal yang dapat mendekatkan diri dalam mengikuti Roh Kudus
Kita harus menyangkal diri, memikul salib,
Dan menolak pikiran jahat, menyerahkan diri
untuk mengabarkan Injil
Dan menolak pikiran jahat, menyerahkan diri
untuk mengabarkan Injil
Kepenuhan Roh Kudus pada zaman ini,
bahwa Roh Kudus akan mendiami orang-orang percaya secara permanen,karena :
1. Roh Kudus adalah hadiah bagi semua
orang yang percaya pada Yesus Kristus tanpa perkecualian dan tanpa syarat
kecuali iman di dalam Yesus Kristus
2. Roh Kudus
diberikan untuk /saat keselamatan
3. Roh Kudus
mendiami orang-orang percaya secara permanen. Roh Kudus diberikan pada
orang-orang percaya sebagai jaminan bagian kita, atau sebagai pembuktian dari
masa depan yang mulia di dalam Kristus
4. Yang
menghalangi kita dari dipenuhi oleh Roh Kudus adalah dosa, dan ketaatan kepada
Tuhan adalah cara untuk mempertahankan kepenuhan Roh Kudus
Sejauh mana
Saya telah mengijinkan Roh Kudus memperbaharui hidup saya?
Jawab:
Seperti orang Samaria meski belum mengenal Allah ia
selalu berbuat baik kepada sesama manusia tanpa memikirkan imbalan. Semua ia
lakukan hanya demi menyelamatkan orang/sesama yang ia jumpai. Dengan contoh dan
teladan itu maka segala perbuatan kebaikan demi menyelamatkan sesama maka Roh
Kudus akan semakin bekerja dan menunjukkan jalan kebenaran pada saya untuk
mencapai kedekatan pada Allah sendiri yaitu keselamatan
1. PENGERTIAN
Hati nurani berasal dari kata bahasa Latin Conscientia
yang berarti kesadaran. Conscientia terdiri dari dua kata yaitu CON dan SCIRE.
Con berarti bersama-sama dan Scire berarti mengetahui. Jadi Conscientia berarti
mengetahui secara bersama-sama/turut mengetahui. Artinya, bukan saja saya
mengenal seseorang tetapi saya juga turut mengetahui bahwa sayalah yang
mengenal. Atau, sambil mengenal, saya (subyek) sadar akan diri (obyek) sebagai
subyek yang mengenal.
Dari uraian
di atas, kita dapat menyimpulkan dua arti dan makna hati nurani yaitu:
a) Arti luas:
Hati nurani berarti kesadaran moral
yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia
b) Arti sempit:
Hati nurani berarti penerapan
kesadaran moral di atas dalam situasi konkret
2. SEGI-SEGI
HATI NURANI
a)
Segi Waktu
·
Hati nurani dapat berperan SEBELUM suatu tindakan
dibuat. Hati nurani akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang kalau
perbuatan itu buruk
·
Hati nurani dapat berperan PADA SAAT suatu tindakan.
Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu
buruk.
·
Hati nurani dapat berperan SESUDAH suatu tindakan
dibuat. Hati nurani akan memuji jika perbuatan itu baik dan menyesal jika
perbuatan itu buruk.
b)
Segi Benar-Tidaknya
·
Hati nurani benar
jika kata hati kita cocok dengan norma objektif
· Hati nurani keliru jika kata hati
kita tidak cocok dengan norma objektif
c)
Segi Pasti-Tidaknya
· Hati nurani yang pasti artinya
secara moral dapat dipastikan bahwa hati nurani tidak keliru
·
Hati nurani
yang bimbang artinya masih ada keraguan
3.
PEDOMAN YANG DAPAT DIPEGANG DALAM HIDUP
Dalam keseharian hidup, begitu
sering kita menemukan atau mengalami banyak hal. Untuk itu ada beberapa hal
yang perlu dipegang sebagai panduan hidup.
·
Jika kata hati nurani yang benar dan pasti maka:
Perbuatan yang baik dan harus
dilakukan
Perbuatan yang buruk harus dielakkan
·
Jika kata hati nurani pasti tetapi keliru maka:
Perbuatan yang baik dapat dan harus
dilakukan
Contoh:
seorang remaja merasa pasti bahwa
hari senin adalah hari puasa kaka ia harus berpuasa, walaupun keliru. Perbuatan
yang buruk harus dielakan
Contoh:
seorang remaja merasa pasti bahwa
mencium kekasihnya adalah dosa, maka ia harus mengelakkannnya walaupun
pandangannya itu keliru.
Ø Jika kata hati nurani yang tidak pasti maka:
Seseorang dapat memilih yang paling
menguntungkan (minus-malum=yang paling sedikit keburukannya)
Ø Jika menyangkut nyawa manusia, maka
keselamatan nyawa itu harus didahulukan.
4. FUNGSI HATI
NURANI
· Sebagai pegangan, pedoman atau norma
untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.
· Sebagai pegangan atau
peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari
· Menyadarkan manusia akan nilai dan
harga dirinya.
5. SIKAP KITA
TERHADAP HATI NURANI
§ Menghormati
setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita
§ Mendengarkan
dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani
§ Mempertimbangkan
secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan oleh hati nurani
§ Melaksanakan
apa yang disuruh oleh hati nurani
- PANDANGAN GEREJA
· Santo Paulus menegaskan bahwa dalam
diri setiap orang ada dua hukum yang saling bertentangan satu sama lain yaitu
hukum ALLAH dan hukum DOSA. Hukum Allah mengajarkan kebaikan dan hukum dosa
mengajarkan kejahatan. Jadi di dalam diri setiap orang selalu ada pergulatan
antara baik dan jahat.
· Menurut Konsili Vatikan II dalam
dokumen Gaudium et Spes (kegembiraan dan harapan) artikel 16: “Di lubuk hati
nuraninya, manusia menemukan hukum yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri
melainkan harus ditaati. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk
mencintai dan melaksanakan apa yang baik dan menghindari apa yang jahat.
Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jalankan ini dan
elakkan itu. Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar suci
di situ ia seorang diri bersama Allah, yang pesanNya menggema dalam hatinya.
Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta
kasih terhadap Allah dan terhadap sesama.”
- BEBERAPA HAL YANG MEMBUAT HATI NURANI TUMPUL/BUTA/MATI
Dalam kalangan remaja, ada banyak
hal yang membuat hati nuraninya tumpul, misalnya:
Kebiasaan nyontek, free sex, menipu,
egois, jarang mengikuti kegiatan rohani, rasa takut, rasa marah, dll.
- CARA MEMBINA SUARA HATI
Ada beberapa
cara membina suarah hati/hati nurani yaitu:
§ Mengikuti
suara hati dalam segala hal
§ Seseorang
yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nuraninya akan semakin
terang dan berwibawa
§ Seseorang
yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinan akan menjadi sehat dan
kuat.
§ Mencari
keterangan pada sumber yang baik
§ Membaca
bacaan rohani: Kitab Suci, dokumen gereja dan buku-buku rohani lainnya
§ Bertanya
kepada orang yang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang dapat dipercaya
§ Mengikuti
kegiatan rohani: rekoleksi, retret, perayaan ekaristi, dll.
§
Koreksi diri atau introspeksi diri
§ Secara rutin
mengevaluasi diri dan pengalaman setiap hari, entah itu pengalaman positif
maupun sebaliknya.
Santo Paulus
dalam surat kepada jemaat di Galatia 5: 17 mengatakan bahwa kita harus
memberikan diri dipimpin oleh Roh. Kita harus berusaha memenangkan hati nurani
kita dan mengalahkan kecenderungan kita yang menyesatkan. Kita harus peka
terhadap sapaan dan rahmat Allah.
Selanjutnya dalam Konsili Vatikan II
khususnya dalam Gaudium et Spes artikel 16, dikatakan bahwa manusia tidak boleh
tunduk dan mengalah pada situasi yang membelenggu suara hati. Dengan bantuan
Roh Allah, kita dimampukan untuk mengalahkan kekuatan dahsyat yang menguasai
suara hati kita yang oleh Santo Paulus disebut kuasa atau keinginan daging.
Perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, egois,
kemabukan dll.
Perbuatan/buah Roh: kasih, suka cita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan
Ctt:
1) Hati nurani
adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah satu perbuatan
konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah laksanakan, baik atau
buruk secara moral. Dalam segala sesuatu yang ia katakana atau lakukan, manusia
berkewajiban mengikuti dengan seksama apa yang ia tahu, bahwa itu benar dan
tepat. Oleh keputusan hati nurani manusia mendengar dan mengenal penetapan
hukum ilahi.
2) Hati nurani
adalah “hukum roh” dan juga suatu “bisikan langsung”, dalamnya terdapat juga
“gagasan pertanggungjawaban, kewajiban, ancaman, dan janji… Ia adalah utusan
dari Dia yang berbicara kepada kita baik di dalam alam maupun di dalam rahmat
di balik satu selubung dan mengajar serta memerintah kita melalui
wakil-wakil-Nya. Hati nurani adalah wakil Kristus yang asli”
3) Bandingkan Rm 1 : 32, Rm 2 :14 - 16
R. Sepuluh
Perintah Allah
Segera setelah penyelamatan mereka
dari Mesir, bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa dan berkata,
"Engkau membawa kami ke alam bebas untuk mati. Kami tidak punya air dan
makanan".
arena kasih yang teramat besar,
Tuhan menjawab keraguan mereka dengan memberikan mereka air. Dan Tuhan juga
berfirman, "Lihatlah, Aku akan menurunkan hujan roti bagimu dan kau akan
mengumpulkannya setiap pagi." Maka terjadilah, dan mereka memberi roti itu
dengan nama “manna”.
Bangsa ini kemudian berkemah
disekitar gunung Sinai. Tiba-tiba terdengarlah suara guruh dan kilat diatas
gunung, dan dari dalam awan yang tebal itu, terdengarlah suara terompet yang
sangat keras sehingga semua orang ketakutan. TUHAN turun ke atasnya dalam api;
asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar
sangat.
The Lord callled Moses up to the top
of the mountain and gave him the Ten Commandments.
Tuhan memanggil Musa untuk naik ke
atas gunung dan berfirman," Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau
keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan." Setelah Tuhan berfirman,
Ia menuliskan sepuluh perintah diatas dua loh batu.
10 The
commandments of God
1)
"You shall have no other gods before me.
2)
"You shall not make for
yourself a graven image or bow down to them or serve them.
3)
Don't take the name of the LORD your God in vain.
4)
Remember the sabbath and keep it holy.
5)
Honor your father and mother.
6)
"You shall not murder.
7)
"You shall not commit adultery.
8)
Do not steal.
9)
You shall not bear false witness against your neighbor.
10) "You shall not covet your
neighbor's house; you shall not covet your neighbor's wife, nor anything that
is your neighbor.
10 PERINTAH ALLAH
1. Jangan ada
padamu allah lain di hadapan -Ku.
2. Jangan
membuat bagimu patung atau sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
3. Jangan
menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan.
4. Ingatlah dan
kuduskanlah hari Sabat.
5. Hormatilah
ayahmu dan ibumu.
6. Jangan
membunuh.
7. Jangan
berzinah.
8. Jangan
mencuri.
9. Jangan
mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10. Jangan mengingini rumah
sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.
Tuhan memberikan suatu ukuran
kekudusan yang sempurna melalui perintah-perintah ini, tapi Dia juga
menunjukkan kepada Musa apa yang mereka harus lakukan jika melanggar perintah
tersebut.
Berfirmanlah
Tuhan, "Bangunlah sebuah mezbah bagiKu. Dan persembahkanlah korban
bakaranmu maka Aku akan memberkatimu. Darah akan menutupi dosamu dan Aku akan
mengampunimu".
S. Dasar ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga
Apa dasar ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga?
Dogma Maria diangkat ke surga berhubungan dengan ajaran Gereja
Katolik tentang Bunda Maria yang lainnya, yaitu bahwa Bunda
Maria adalah Bunda Allah, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh
Allah, sehingga Maria menjadi ‘Sang Tabut Perjanjian Baru’ yang mengandung
Kristus sebagai penggenapan Perjanjian Lama. Sama seperti Kristus yang
dikandungnya dimuliakan Allah dengan kenaikan-Nya ke surga, demikian pula Maria
dimuliakan oleh Allah dengan diangkat ke surga setelah akhir hidupnya di dunia.
Pengangkatan Maria ke surga ini memberikan pengharapan bagi penggenapan janji Allah kepada semua umat beriman yang setia sampai pada akhirnya.
Pengangkatan Maria ke surga ini memberikan pengharapan bagi penggenapan janji Allah kepada semua umat beriman yang setia sampai pada akhirnya.
1. Bunda Maria
adalah Tabut Perjanjian Baru yang selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus
yang dikandungnya.
Kitab
Mazmur mengajarkan, “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu,
Engkau serta tabut kekuatan-Mu!” (Mzm 132:8). Maria sebagai Tabut Perjanjian
Baru yang mengandung Kristus, akan selalu bersama dengan Kristus.
Jika
Henokh dan nabi Elia dapat diangkat oleh Tuhan ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr
11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Tuhan Yesus dapat melakukan
hal itu terhadap Ibu-Nya.
2. Kitab Suci
menggambarkan secara figuratif bahwa Bunda Maria adalah ratu, yang menerima
kemuliaan karena kemuliaan Puteranya.
Kitab
Raja- raja mengisahkan bagaimana Raja Salomo (anak Raja Daud) menghormati
ibunya, Batsyeba, dan raja menyediakan tempat bagi bundanya di sebelah kanannya
(lih. 1 Raj 2:19). Kristus, sebagai Raja keturunan Daud dan Putera Allah
sendiri, akan berbuat yang sama, yaitu menghormati ibu-Nya dan menyediakan
tempat baginya di sisi kanan-Nya di Surga. Jika raja di dunia tahu menghormati
ibunya, maka Kristus Sang Raja di atas segala raja, tidak akan kurang dalam
memberi penghormatan kepada ibu yang melahirkan-Nya ke dunia.
Kitab
Mazmur menggambarkan perkawinan raja, di mana raja yang digambarkan di sana
adalah Kristus: “Engkau yang terelok di antara anak- anak manusia…. Takhtamu
kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya…. sebab itu Allah telah
mengurapi engkau… di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja,
disebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.” (Mzm 45:3-10)
Permaisuri di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja, sebagaimana ratu Batsyeba
di jaman Raja Salomo.
Kitab
Wahyu menggambarkan Tabut perjanjian sebagai seorang perempuan yang mengandung
Anak laki- laki, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan
kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat
dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda
besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di
bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya….
Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua
bangsa dengan gada besi…” (Why 11:19- 12:1-12). Gereja Katolik
menginterpretasikan ‘perempuan’ ini secara literal sebagai Bunda Maria, yaitu
“perempuan” yang sama yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Namun
demikian, Gereja Katolik juga menerima interpretasi allegoris lainnya, yaitu
bahwa ‘perempuan’ ini dapat diinterpretasikan sebagai Gereja, Israel ataupun
Yerusalem sorgawi.
3. Pengangkatan
Bunda Maria ke surga merupakan pemenuhan janji Allah.
Kitab
Suci mengatakan bahwa seorang perempuan (yaitu Bunda Maria) yang keturunannya
(Yesus) akan menghancurkan Iblis dan kuasanya, yaitu maut (lih. Kej 3:15); dan
bahwa pengangkatan ini merupakan kemenangan atas dosa dan maut (lihat Rom 5-6,
1 Kor 15:21-26) di mana kematian akan ditelan dalam kemenangan (1 Kor
15:54-57).
Rasul
Paulus mengajarkan bahwa “…jika kita menderita bersama-sama dengan Dia
[Kristus]…kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rom 8:17).
Kehidupan Bunda Maria sendiri diwarnai berbagai penderitaan bersama Kristus,
dan nubuat Nabi Simeon bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya (Luk 2:35)
tergenapi di kaki salib Kristus, saat Bunda Maria melihat Yesus Puteranya
disiksa sampai wafat di hadapan matanya sendiri. Oleh sebab Bunda Maria adalah
ibu yang melahirkan Kristus dan karena itu dibebaskan Allah dari noda dosa, dan
sebab Bunda Maria adalah murid Kristus yang pertama menderita bersama-Nya
dengan sempurna, maka layaklah bahwa Tuhan Yesus memenuhi janji dalam Rom 8:17
ini dengan mengangkat Bunda Maria secara sempurna, tubuh dan jiwa ke dalam
kemuliaan surga, di akhir hidupnya. Sebab dikatakan dalam Kitab Suci bahwa
Kristus adalah buah sulung yang bangkit dari mati, dan kemudian diikuti oleh
orang- orang lain [yaitu umat beriman] menurut urutannya (lih. 1 Kor 15:23).
Sepantasnyalah Maria, sebagai ibu Yesus, menempati urutan kedua setelah Yesus.
Bunda Maria menjadi yang pertama dari umat beriman yang ditempatkan di sebelah
kanan Allah, sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada mereka yang beriman dan
hidup sesuai dengan imannya (lih. Mat 25:33).
Akhirnya,
perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ Tuhan ke surga, dan bukan
‘naik’ ke surga. Maria ‘diangkat’, jadi bukan karena kekuatannya sendiri
melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh
kekuatan-Nya sendiri. Bagi umat Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke
surga adalah peringatan akan pengharapan akan kebangkitan badan di akhir zaman.
Kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai
akhir, akan mengalami apa yang dijanjikan Tuhan itu: bahwa kita akan diangkat
ke surga, tubuh dan jiwa untuk bersatu dengan Dia dalam kemuliaan surgawi.
Maka, dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk
menghormati Maria, tetapi merupakan perayaan akan pengharapan kita sebagai
murid- murid Kristus.
4. Dasar Kitab
Suci
a)
Kej 3:15: Seorang perempuan
[Maria] dan keturunannya [Yesus] akan meremukkan kepala ular [Iblis]
b)
1 Raj 2:19: Bunda raja
menerima penghormatan dari raja dan ditempatkan di sisi kanan raja
c)
Mzm 45:3-10: Permaisuri berpakaian
emas di sisi kanan raja
d)
Why 11:19- 12:1-12: Bunda
Maria, Sang Tabut perjanjian dan perempuan yang melahirkan Anak laki- laki
[Kristus] yang memimpin dunia.
e)
Rom 5-6:23: Upah dosa
adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal. (Maka Maria yang
tidak berdosa, tidak mengalami kerusakan akibat maut)
f)
1 Kor 15:21-26: Semua orang
akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus, tiap- tiap orang
menurut urutannya.
g)
1 Kor 15:54: Maut ditelan
dalam kemenangan (ini digenapi dalam diri Bunda Maria yang tak berdosa)
h)
Rom 8:17: Mereka yang
menderita bersama Yesus akan dimuliakan bersama Dia.
5. Dasar Tradisi
Suci
a)
Pseudo- Melito (300): Oleh
karena itu, jika hal itu berada dalam kuasaMu, adalah nampak benar bagi kami
pelayan- pelayan-Mu, bahwa seperti Engkau yang telah mengatasi maut, bangkit
dengan mulia, maka Engkau seharusnya mengangkat tubuh Bundamu dan membawanya
dengan-Mu, dengan suka cita ke dalam surga. Lalu kata Sang Penyelamat [Yesus]:
“Jadilah seperti perkataanmu”. (The Passing of the Virgin16:2-17)
b)
Timotius dari Yerusalem
(400)
Oleh karena itu Sang Perawan [Maria] tidak mati sampai
saat ini, melihat bahwa Ia yang pernah tinggal di dalamnya memindahkannya ke
tempat pengangkatannya. (St. Timothy of Jerusalem, Homily on Simeon dan Anna,
400)
c)
Yohanes Sang Theolog (400)
Tuhan berkata kepada Ibu-Nya, “Biarlah hatimu bersuka
dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari
Bapa-Ku di Surga dan dari-Ku dab dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil
namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belas kasihan dan
ketenangan dan dukungan dan kepercayaan diri, baik di dunia sekarang ini dan di
dunia yang akan datang, di dalam kehadiran Bapa-Ku di Surga”… Dan dari saat itu
semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan yang berharga itu telah
dipindahkan ke surga (John the Theologian, The Dormition of Mary)
d)
Gregorius dari Tours (575)
Para Rasul mengambil tubuhnya [jenazah Maria] dari
peti penyangganya dan menempatkannya di sebuah kubur, dan mereka menjaganya,
mengharapkan Tuhan [Yesus] agar datang. Dan lihatlah, Tuhan datang kembali di
hadapan mereka; dan setelah menerima tubuh itu, Ia memerintahkan agar tubuh itu
diangkat di awan kesurga: di mana sekarang tergabung dengan jiwanya, [Maria]
bersukacita dengan para terpilih Tuhan … (Gregory of Tours, Eight Books of
Miracles 1:4)
e)
Theoteknos dari Livias
(600)
Adalah layak … bahwa tubuh Bunda Maria yang tersuci, tubuh
yang melahirkan Tuhan, yang menerima Tuhan, menjadi ilahi, tidak rusak,
diterangi oleh rahmat ilahi dankemuliaan yang penuh …. agar hidup di dunia
untuk sementara dan diangkat ke surgadengan kemuliaan, dengan jiwanya yang
menyenangkan Tuhan (Theoteknos, Homily on the Assumption)
f)
Modestus dari Yerusalem
(sebelum 634)
Sebagai Bunda Kristus yang termulia… telah menerima
kehidupan dari Dia [Kristus], ia telah menerima kekekalan tubuh yang tidak
rusak, bersama dengan Dia yang telah mengangkatnya dari kubur dan mengangkatnya
kepada Diri-Nya dengan cara yang hanya diketahui oleh-Nya. (Modestus, Encomium
in dormitionnem Sanctissimae Dominae nostrae Deiparae semperque Virginis
Mariae)
g)
Germanus dari
Konstantinopel (683)
Engkau adalah ia, …. yang nampak dalam kecantikan, dan
tubuhmu yang perawan adalah semuanya kudus, murni, keseluruhannya adalah tempat
tinggal Allah, sehingga karena itu dibebaskan dari penguraian menjadi debu.
Meskipun masih manusia, tubuhmu diubah ke dalam kehidupan surgawi yang tidak
dapat musnah, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan mengambil bagian dalam
kehidupan yang sempurna (Germanus, Sermon I).
h)
Yohanes Damaskinus (697)
Adalah layak bahwa ia, yang tetap perawan pada saat
melahirkan, tetap menjaga tubuhnya dari kerusakan bahkan setelah kematiannya.
Adalah layak bahwa dia, yang telah menggendong Sang Pencipta sebagai anak di
dadanya, dapat tinggal di dalam tabernakel ilahi. Adalah layak bahwa mempelai,
yang diambil Bapa kepada-Nya, dapat hidup dalam istana ilahi. Adalah layak
bahwa ia, yang telah memandang Putera-Nya di salib dan yang telah menerima di
dalam hatinya pedang duka cita yang tidak dialaminya pada saat melahirkan-Nya,
dapat memandang Dia saat Dia duduk di sisi Bapa. Adalah layak bahwa Bunda Tuhan
memiliki apa yang dimiliki oleh Putera-nya, dan bahwa ia layak dihormati oleh
setiap mahluk ciptaan sebagai Ibu dan hamba Tuhan (John Damascene,Dormition of
Mary)
i)
Gregorian Sacramentary
(795)
Terhormat bagi kami, O Tuhan, perayaan hari ini, yang
memperingati Bunda Allah yang kudus yang meninggal dunia untuk sementara waktu,
namun tetap tidak dapat dijerat oleh maut, yang telah melahirkan Putera-Mu,
Tuhan kami yang menjelma dari dirinya. (Gregorian Sacramentary, Veranda, ante
795)
6.
Dasar Magisterium
a)
Paus Pius XII dalam
Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus, mengajarkan,
“Oleh karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala kekekalan digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak tertinggi dari segala haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar bebas dari kerusakan kubur dan bahwa seperti Puteranya, setelah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemegahan di sisi kanan Putera-Nya, Raja segala masa yang kekal (lih. 1 Tim 1:17,Munificentissimus Deus, 40)
“Oleh karena itu, Bunda Tuhan yang terhormat, dari segala kekekalan digabungkan secara tersembunyi dengan Yesus Kristus …. akhirnya memperoleh sebagai puncak tertinggi dari segala haknya yang istimewa, bahwa ia harus dijaga agar bebas dari kerusakan kubur dan bahwa seperti Puteranya, setelah mengalahkan maut, ia dapat diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga, di mana sebagai Ratu, ia duduk di dalam kemegahan di sisi kanan Putera-Nya, Raja segala masa yang kekal (lih. 1 Tim 1:17,Munificentissimus Deus, 40)
“…. dengan kuasa dari Tuhan kita Yesus Kristus,
[kuasa] dari Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati, dan dengan kuasa kami
sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan menentukannya sebagai dogma yang
ilhami Roh Kudus: bahwa Bunda Maria yang tidak bernoda, Perawan Maria yang
tetap perawan, setelah menyelesaikan kehidupannya di dunia, diangkat tubuh dan
jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi.” (Munificentissimus Deus, 44)
b)
Konsili Vatikan II:
“Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah
terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya
di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya.
Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih
penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang
telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium 59)
c)
Katekismus Gereja
Katolik:
KGK 966 “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah
terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya
di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya.
Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih
penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan
dosa dan maut” (Lumen Gentium 59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria
diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan
tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan
satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.
“Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).
“Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).
Tentang Bunda Maria dan St. Yusuf
Mau nanya nih..soalnya sampe sekarang masih penasaran:
1.
setelah Yesus bangkit dari
antara orang mati, kemana Bunda Maria pergi. apakah Bunda Maria itu meninggal
dulu baru kemudian di angkat ke surga?? dimana kuburnya? hidup sampai umur
berapa??
2.
Santo Yosef (suami Bunda
Maria) perannya bersama Yesus berdasarkan KS PB hanya sampai pada saat mereka
menemukan Yesus yang waktu itu umur 12 thn di dalam Bait Allah. setelah itu
kemana st.Yosef pergi? apakah Dia tetap hidup membesarkan Yesus bersama Bunda
Maria di nazareth?
thanks atas jawabannya.
thanks atas jawabannya.
Jawaban:
Shalom Saudaraku
1.
Memang tidak dapat
diketahui dengan pasti di mana Bunda Maria hidup setelah hari Pentakosta.
Dikatakan mungkin ia hidup di Yerusalem seterusnya sampai ia wafat, atau bisa
juga, dia tinggal selama beberapa saat di Efesus, sehingga ada tradisi yang mengatakan
Maria wafat dan dikubur di sana. Namun tradisi yang umum dipegang oleh para
Bapa Gereja sampai abad ke-2 adalah bahwa Maria wafat di Yerusalem. Tradisi ini
diperoleh dari tulisan St. Klemens dari Alexandria (136) dan Apollonius (137)
yang mengisahkan perintah dari Tuhan Yesus kepada para rasul untuk mengajar di
Yerusalem dan Palestina selama 12 tahun sebelum pergi seluruh dunia. Catatan
ini menyimpulkan bahwa Bunda Maria wafat sekitar tahun 48, sebelum Rasul
Yohanes pergi meninggalkan Yerusalem.
Memang tradisi mengatakan Bunda Maria wafat, sebelum ia diangkat ke surga oleh Tuhan. Walaupun demikian, wafatnya Bunda Maria bukan karena ia berdosa, namun kerena ingin mempersatukan dirinya dengan Kristus, yang juga mengalami kematian, meskipun Dia tidak berdosa. Kematian Bunda Maria adalah juga merupakan puncak yang melengkapi kehidupannya yang penuh dengan pengorbanan. Menurut Tradisi Gereja Katolik, setelah wafatnya, Bunda Maria segera diangkat ke surga tubuh dan jiwanya, sehingga memang tidak ditemukan secara pasti di mana kuburannya, ataupun jenazahnya. Jika anda ingin mengetahui dasarnya mengapa Gereja Katolik mengajarkan Bunda Maria diangkat ke surga, silakan klik di sini. Menurut tradisi, dikatakan bahwa kubur Bunda Maria ada di lembah Kidron, meskipun ada juga yang mengatakan kemungkinan kuburnya ada di Efesus. Tetapi di sini yang ada tentu hanya ‘kubur kosong’. Silakan membacanya lebih lanjut di link ini, silakan klik.
Memang tradisi mengatakan Bunda Maria wafat, sebelum ia diangkat ke surga oleh Tuhan. Walaupun demikian, wafatnya Bunda Maria bukan karena ia berdosa, namun kerena ingin mempersatukan dirinya dengan Kristus, yang juga mengalami kematian, meskipun Dia tidak berdosa. Kematian Bunda Maria adalah juga merupakan puncak yang melengkapi kehidupannya yang penuh dengan pengorbanan. Menurut Tradisi Gereja Katolik, setelah wafatnya, Bunda Maria segera diangkat ke surga tubuh dan jiwanya, sehingga memang tidak ditemukan secara pasti di mana kuburannya, ataupun jenazahnya. Jika anda ingin mengetahui dasarnya mengapa Gereja Katolik mengajarkan Bunda Maria diangkat ke surga, silakan klik di sini. Menurut tradisi, dikatakan bahwa kubur Bunda Maria ada di lembah Kidron, meskipun ada juga yang mengatakan kemungkinan kuburnya ada di Efesus. Tetapi di sini yang ada tentu hanya ‘kubur kosong’. Silakan membacanya lebih lanjut di link ini, silakan klik.
2.
Tentang St. Yusuf. Memang
di Kitab Suci ia tidak lagi dibicarakan setelah kisah Yesus diketemukan di Bait
Allah pada usia 12 tahun. St. Yusuf sudah tidak disebutkan pada waktu Yesus
mengajar, ataupun pada saat Ia wafat di salib. Maka tradisi mengatakan St.
Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus mulai mengajar. Sebab tidak mungkin Yesus
(pada saat terakhirnya di kayu salib) memasrahkan Bunda Maria kepada Yohanes
murid yang dikasihi-Nya, jika St. Yusuf masih hidup. Memang ada beberapa
tradisi tentang St. Yusuf, ada yang menceritakan ia sudah tua saat mengambil
Maria sebagai istrinya, namun ada juga yang tidak mengatakan demikian. Menurut
kisah penglihatan seorang biarawati dari Agreda (Spanyol), bernama Maria
yang terberkati (1602-1665), St. Yusuf mengambil Bunda Maria sebagai
istrinya ketika ia berumur sekitar umur 33 tahun, sedangkan Bunda Maria umur
sekitar 14 tahun. Jika anda ingin membaca lebih lanjut mengenai hal ini, silakan klik di link
ini, yang juga menceritakan kematian St. Yusuf yang damai/ menyenangkan.
St. Yusuf meninggal dunia di usia perkawinan ke 27 tahun, jadi sebelum Yesus
mengajar.
T. Doa sebelum
Komuni dan Doa sesudah Komuni
Tuhan yang Mahabesar dan kekal,aku menghadap sakramen Putera Tunggal-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Aku datang sebagai orang yang sakit kepada Sang Tabib Kehidupan, sebagai orang yang berdosa ke hadapan mata air belas kasih, sebagai orang buta ke hadapan Terang yang kekal,
sebagai orang miskin dan papa kepada Tuhan langit dan bumi.
Karena itu, aku memohon kelimpahan rahmat-Mu yang tak terbatas agar Engkau berkenan memulihkan penyakitku, mencuci noda dosaku, menerangi kebutaanku, memperkaya kemiskinanku, sehingga aku dapat menerima Roti para malaikat, Raja dari segala raja, dengan segala penghormatan dan kerendahan hati, dengan kasih yang besar, dengan kemurnian dan iman, dengan tujuan dan maksud yang dapat berguna bagi keselamatan jiwaku.
Berikankah kepadaku, kumohon, rahmat untuk menerima tidak saja sakramen Tubuh dan Darah Tuhan kami, tetapi juga rahmat dan kuasa dari sakramen ini. O, Tuhan yang Maha Pemurah, dengan menerima Tubuh Putera-Mu yang Tunggal, Tuhan kami Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Perawan Maria, karuniakanlah kepadaku rahmat untuk boleh digabungkan dengan Tubuh Mistik-Nya dan terhitung sebagai anggota- anggota Tubuh-Nya.
O Tuhan yang Maha Pengasih, berikanlah kepadaku rahmat untuk memandang wajah sesungguhnya dari Putera-Mu terkasih selamanya di surga, yang kini akan kuterima dalam rupa yang terselubung.
Amin.
Jiwa
Kristus, kuduskanlah aku
Tubuh Kristus, selamatkanlah aku
Darah Kristus, sucikanlah aku
Air dari lambung Kristus, basuhlah aku
Sengsara Kristus, kuatkanlah aku
O Yesus yang murah hati, luluskanlah doaku
Ke dalam luka- luka-Mu sembunyikanlah aku.
Buatlah agar aku tidak terpisah dengan-Mu.
Dari si Jahat yang curang, bela-lah aku.
Di saat ajalku, terimalah aku.
Dan perintahkanlah aku untuk datang kepada-Mu.
Sehingga dengan para kudus-Mu aku dapat memuji Engkau.
Selamanya.
Tubuh Kristus, selamatkanlah aku
Darah Kristus, sucikanlah aku
Air dari lambung Kristus, basuhlah aku
Sengsara Kristus, kuatkanlah aku
O Yesus yang murah hati, luluskanlah doaku
Ke dalam luka- luka-Mu sembunyikanlah aku.
Buatlah agar aku tidak terpisah dengan-Mu.
Dari si Jahat yang curang, bela-lah aku.
Di saat ajalku, terimalah aku.
Dan perintahkanlah aku untuk datang kepada-Mu.
Sehingga dengan para kudus-Mu aku dapat memuji Engkau.
Selamanya.
Aku
berterima kasih kepada-Mu, Bapa yang kekal, karena oleh belas kasihan-Mu yang
murni
Engkau telah
berkenan memberi makan jiwaku dengan Tubuh dan Darah Putera Tunggal-Mu, Tuhan
kami Yesus Kristus. Kumohon kepada-Mu agar Komuni kudus ini tidak menjadi
kutukan bagiku,
tetapi menjadi penghapusan yang berdayaguna untuk semua dosaku. Semoga Komuni ini menguatkan imanku, membangkitkan di dalamku semua yang baik, membebaskan aku dari kebiasaan- kebiasaan buruk, menghapuskan semua kecondongan terhadap dosa, menyempurnakan aku di dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati, baik yang kelihatan dan tak kelihatan, menjadikankanku bersahaja dalam segala hal, mempersatukanku dengan-Mu dengan erat, Sang Kebaikan sejati, dan tempatkanlah aku dalam kebahagiaan yang tak dapat berubah .
tetapi menjadi penghapusan yang berdayaguna untuk semua dosaku. Semoga Komuni ini menguatkan imanku, membangkitkan di dalamku semua yang baik, membebaskan aku dari kebiasaan- kebiasaan buruk, menghapuskan semua kecondongan terhadap dosa, menyempurnakan aku di dalam kasih, kesabaran, kerendahan hati, baik yang kelihatan dan tak kelihatan, menjadikankanku bersahaja dalam segala hal, mempersatukanku dengan-Mu dengan erat, Sang Kebaikan sejati, dan tempatkanlah aku dalam kebahagiaan yang tak dapat berubah .
Kini aku
memohon dengan sungguh agar suatu hari nanti Engkau akan menerima aku, meskipun
aku orang berdosa dan tidak layak, untuk menjadi seorang tamu pada Perjamuan
Ilahi di mana Engkau, dengan Putera-Mu dan Roh Kudus, adalah Terang Ilahi,
kesempurnaan kekal, sukacita yang tak berkesudahan dan kebahagiaan sempurna
dari semua orang Kudus, melalui Kristus Tuhan kami.
Amin
Doa Sesudah Komuni yang terdapat dalam daftar
Indulgensi
Dalam The Enchiridion of Indulgences (Buku ketentuan mengenai Indulgensi) yang dikeluarkan oleh Vatikan tanggal 29 Juni 1968 (silakan klik) menyatakan bahwa dengan merenungkan pengorbanan Yesus dan luka-luka-Nya di kayu salib sebagaimana dijabarkan dalam doa yang sederhana berikut ini, kita dapat memperoleh indulgensi. Demikianlah doanya yang mengambil dasar dari kitab Mazmur 22: 17-18:
Dalam The Enchiridion of Indulgences (Buku ketentuan mengenai Indulgensi) yang dikeluarkan oleh Vatikan tanggal 29 Juni 1968 (silakan klik) menyatakan bahwa dengan merenungkan pengorbanan Yesus dan luka-luka-Nya di kayu salib sebagaimana dijabarkan dalam doa yang sederhana berikut ini, kita dapat memperoleh indulgensi. Demikianlah doanya yang mengambil dasar dari kitab Mazmur 22: 17-18:
Lihatlah
kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, En ego, o bone et dulcissime
Iesu.“Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu
aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa dan memohon kepada-Mu
agar menanamkan di dalam hatiku, citarasa yang hidup akan iman, pengharapan dan
kasih, pertobatan yang sungguh dari dosa-dosaku, dan kehendak yang kuat untuk
memperbaikinya. Dan dengan kasih dan dukacita yang mendalam, aku merenungkan
kelima luka-luka-Mu, yang terpampang di hadapanku, yang tentangnya Raja Daud,
nabi-Mu, telah menubuatkan perkataan ini yang keluar dari mulut-Mu, ya Tuhan
Yesus: “Mereka telah menusuk tangan-Ku dan kaki-Ku; mereka telah menghitung
semua tulang-Ku….”
Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar